Thursday, May 9, 2013

My (Girl) Friend: Chapter 7



“Kamsahamnida...”
Seorang yeoja berkata sambil membungkukkan badannya.
“Ne, gwaenchana...”
Jawab seorang namja sambil kembali masuk ke mobil sedan yang berwarna hitam.
Yeoja itu berbalik setelah mobil sedan yang melaju sudah tak tampak lagi.
Tampak sebuah bangunan didepannya.
Ia berjalan menuju sebuah pintu dan masuk ke pintu itu.
Sepi.
Ruang tengah sudah tak ada orang lagi.
Jam dinding terlihat menggantung di sana.
Pukul 23:00.
Yeoja itu berjalan masuk menuju kamarnya.
Dan terlihat yeoja lain sedang terduduk di tempat tidur sambil memeluki lututnya.
Matanya terlihat mengarah pada jam tangan yang sedang dipakainya.
“Ehm......”
Yeoja yang terduduk itu seketika langsung melihat ke arah pintu.
“Ah Fany! Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang??”
Dari nada bertanyanya, ia terlihat sangat khawatir.
“Memang apa pedulimu?” jawabnya sinis.
“Eh?..... Kau kenapa?”
“Tak usah pedulikan aku, urus saja namjamu itu”
“Mwo? Namja? Nuguya?”
“Kau pikir aku tak melihatmu tadi di taman? Hah?”
Tiffany melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke kursi.
Kemudian langsung menelungkupkan badannya di tempat tidur.
Hening.
Taeyeon tak bisa berkata apa-apa.
Perlahan ia mendekati Tiffany, dan menepuk punggungnya.
“Fany? Tadi k-kau me-melihatnya??”
Tak ada respon apa-apa dari Tiffany.
Perlahan terlihat badannya bergetar.
Taeyeon langsung menuju ke sisi lain tempat tidur Tiffany.
Terlihat luapan air mata membanjiri pipi Tiffany.
“Ishhh....waeyo Fany-ah???”
Katanya sambil mengambil tisu yang terletak di atas meja di sebelah tempat tidur.
“Aniya.....” kata Tiffany sambil menahan tangan Taeyeon yang hendak menghapus air matanya.
Dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dari kaki sampai kepala dengan selimut.
“Fany....tadi itu di taman aku tak-”
“Sudahlah, aku tak peduli” Tiffany memotong perkataan Taeyeon dari dalam selimut.
“Ehmm...aku tahu kalau kau-”
“Omong kosong! Tak ada yang kau ketahui dariku!”
Lagi-lagi ia memotong perkataannya.
“Aku tahu segalanya tentangmu, Fany-ah...” sanggah Taeyeon.
“Lagi-lagi omong kosong!
Apa kau tahu bahwa aku sangat cemburu ketika kau berduaan dengan namja itu?
Apa kau tahu bahwa aku selalu memperhatikanmu di kelas?
Apa kau tahu bahwa aku selalu khawatir setiap kali Kwon Lucy memarahimu?
Apa kau tahu bahwa aku adalah orang lain selain kau yang khawatir bila nilaimu merah?
Apa kau tahu kalau aku selalu mendoakanmu setiap malam?
Apa kau tahu perasaanku padamu?
Kau tidak tahu kan?!
Jawab aku, Taeyeon!
Jawab aku!! ”
Isakan tangis yeoja di dalam selimut itu memecah keheningan kamar tersebut.
Taeyeon hanya terdiam bisu.
Matanya berkaca-kaca.

TIFFANY POV
-Flashback-
“Hey Shindong, apa menurutmu aku perlu meneleponnya lagi?”

Hmm...ternyata namanya Shindong

“Aigoo....jangan tanya aku, aku tak tahu. Aku tak mengerti wanita. Mereka itu sulit dimengerti. Aku hanya lapar”
“Ishhh kau ini....” kata namja di sebelahku, kemudian mengambil HP di sakunya.
Ia terlihat memainkan HP nya sambil menyetir.
Dan terlihat gugup serta terlihat bimbang.
“Ah nanti sajalah” katanya sambil meletakkan HP nya di dekat rem tangan.
Iseng-iseng aku melirik sedikit ke arah layar HP itu.
Aku melihat tulisan di layar HP nya.

Last call: Taeyeon (Today. 18:06)

“.......t-taeyeon....???”

“Hey nona, namamu siapa?” tanya Shindong, jelas-jelas padaku.
“.................”
“Ah dia tak dengar ya.... Hey Leeteuk, coba tanyakan namanya” lanjut Shindong sambil menepuk pundak namja yang mengemudikan mobil itu.
Namja di sebelahku menepuk pundakku.
“Ehm....kalau boleh tau, siapa namamu?”
 “E-eh mian. Namaku Tiffany. Hwang Tiffany.” Kataku sambil membungkukkan badan ke arahnya.
“Ohh, aku Leeteuk. Dan temanku ini Shindong. Senang berkenalan denganmu”
“Ne. Nado” jawabku singkat, karena masih kaget melihat nama Taeyeon di layar HP nya.
“Nanti aku turun di depan situ” kataku sambil menunjuk asrama HyoSang yang sudah agak terlihat.
“Ah, arraseo”
Mobil pun berhenti melaju.
Aku keluar dari mobil, dan namja yang bernama Leeteuk pun keluar.
“Kamsahamnida...” aku berterima kasih sambil membungkukkan badan.
“Ne. Gwaenchana....” Ia membalasnya dengan senyuman.
Namja itu kembali masuk ke mobil, dan melajukan mobilnya lagi.

Hmmm. Apakah dia itu...........

.......Leeteuknya Taeyeon??

-Flasback End-

Aku meremas-remas sprei tempatku berbaring.
Tak tahu lagi apa yang harus dikatakan, saking kesalnya.
Sekelilingku basah semua oleh air mata.
Air mata yang keluar sia-sia.
Untuk seseorang yang mungkin tidak memperdulikanku.
Keheningan kurasakan.
Apa ia masih ada di luar sana?
Aku perlahan membuka selimut yang bergambar boneka beruang yang sedari tadi menutupi seluruh tubuhku.
Cih. Masih ada.
Ia terduduk di depanku.
Seketika aku langsung menutup kembali kepalaku dengan selimut tadi.
“Tiffany.....”
Ia menyebut namaku dengan suaranya yang lembut.
Aku tak menggubrisnya.
“Fany ah....”
Kali ini dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Diam saja. Aku tak peduli.
Terdengar ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arahku.
Dan membuka selimutku.
“Perasaan apa yang kau sembunyikan dariku?”
Tanya nya padaku, terlihat matanya berkaca-kaca.
Aku langsung mengambil kembali selimutku, tapi ditahan olehnya.
Ia membaringkanku kembali.

“Katakan.....apakah kau..........

...........menyukaiku?”

*DEG*

Jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan itu.
Kembali kuremas sprei tempatku berbaring.
“Apa aku wajib menjawab itu?”
“Tentu saja”
“Wae?”
Taeyeon meletakkan tangannya di pipiku.
“..........”
“Kenapa? Kau tidak bisa jawab kan?”
“Karena........”

“Karena aku menyukaimu, Tiffany”

*DEG*

Detak jantungku semakin cepat.
Darahku mengalir hebat.
Tanganku bergetar.
“Jadi jawablah. Tiffany, apa kau menyukaiku?”
Katanya sambil mengelus lembut pipiku sampai ke leherku.
Ughh Taeyeon....” kataku dalam hati.
“Aku akan membuatmu menjawab pertanyaanku ini, Fany”
Ia berpindah posisi ke hadapanku.
Tidak. Tepatnya ke atasku.
Tangannya belum lepas dari pipiku.
Matanya masih berkaca-kaca. Makin terlihat karena pantulan lampu yang remang-remang.
Ia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Jawab aku, Fany....”
Desahan nafasnya masuk ke telingaku.
“Ishhh..... geli Taeyeon-ah!”
Aku menghindari kepalanya, tapi tangannya menahan kepalaku untuk tetap di situ.
Aku merasakan sesuatu yang lembut menempel di telingaku.
Ya. Itu bibirnya.
“Mmhhh hentikan Taeyeon....”
“Tidak sebelum kau menjawabnya, Tiffany”
Kembali ia mengecup telingaku.
Bukannya aku tak mau menjawab. Tetapi aku mau ini terus berlanjut.
Kini badannya menempel dengan badanku.
Lebih tepatnya, ia menimpaku.
Tercium wangi parfum yang khas.
Parfum yang biasa dipakai oleh Taeyeon.
“Andwae Taeyeon.....” ucapku perlahan.
Kini bibirnya sudah menjelajahi leher kananku.
Lidahnya bergerilya di belakang telingaku.
“Cukup Taeyeon...aishhh” Aku mendorongnya, menahannya untuk berhenti memainkan lidahnya di leherku.
Ia berhenti, kemudian menatapku.
“Wae? Kau tidak menyukainya?” tanya Taeyeon padaku.
“Aniya....aku hanya ta-”
Kata-kataku terhenti, bukan karena sengaja kuhentikan.
Tapi karena bibir mungilnya telah mengunci bibirku.

*****



8 comments:

  1. ,pnasaran sama klanjutan'a,,
    huuEe,, daebak :)

    ReplyDelete
  2. author nya juga penasaran ._.v

    ReplyDelete
  3. Di tunggu kelanjutanya :D

    ReplyDelete
  4. ,udah ngga sabar thorr,,
    huuEee,, lanjut'in,, jebal,, :D

    ReplyDelete
  5. Hai annyeooong akunew reader nih.. Wah ceritanya keren banget thor. Lanjut sampe beres tjor haha ceritanya ngena banget��

    ReplyDelete
  6. Enter your comment...lanjut dong ...penasaran nih ...

    ReplyDelete
  7. Enter your comment...lanjut dong ...penasaran nih ...

    ReplyDelete