Saturday, May 16, 2015

The Punishment

YongShin Fanfic
Cast: Jung Yonghwa, Park Shinhye, Hwang Tiffany

Rated: M++(?)

Genre: Romance




“Ingat. Kau milikku.
Aku tidak akan membiarkan tatapanmu tertuju pada wanita lain.
Bahkan untuk melihat ujung rambutnya saja, aku tidak akan membiarkanmu.”

Namja itu memutar-mutar pulpen dengan lincah dengan kedua jarinya, sambil tatapannya tertuju pada sebuah foto seorang yeoja yang terbingkai indah di meja kerjanya.
Ia menunjuk-nunjuk foto yeoja tersebut dengan pulpen yang tadi dimainkannya.

“Neo baboya.... neo baboya...” gumam namja itu sambil sesekali cekikian karena wajah konyol yang terpampang di foto itu.

Gumamannya berhenti saat tangan lembut seseorang menepuk pundaknya.

“Hmm permisi, kau orang baru kan di sini?” tanya seorang wanita paruh baya yang tadi menepuk pundaknya. Ia memakai kemeja berwarna putih dengan rok agak ketat selutut. Pakaian yang sudah biasa digunakan di kantor-kantor pada umumnya.
Umurnya sekitar 45 tahun, tetapi ia masih terlihat cantik dengan wajahnya yang tanpa kerutan dan kulitnya yang masih kencang.

“A-ah. Iya”

 Seketika namja itu membalikan badan dan langsung berdiri, lalu membungkukan sekitar 45 derajat badan pada wanita itu.

 “Hmm. Namamu....”

Wanita paruh baya itu menyilangkan kedua tangan di dadanya, kemudian mengarahkan tatapannya ke arah name tag yang dikalungkan di leher namja tersebut.

“Yonghwa. Jung Yonghwa?”

“Ne, Nyonya Choi”

Namja itu menjawab dengan  tersenyum kaku, sedikit memperlihatkan gigi gingsulnya yang memberikan kesan manis.
Nyonya Choi tidak membalas senyuman tersebut, matanya mencuri-curi pandang ke meja kerja Yonghwa.

“Apakah kerjaanmu sudah selesai? Kulihat tadi kau  tersenyum-senyum sendiri sambil memandang ke...”

Ia mengentikan ucapannya. Matanya kembali mencuri pandang ke meja kerjanya, lalu terkunci pada sebuah foto yeoja yang sedari tadi dipandangi oleh Yonghwa. Disambarnya foto yang terbingkai dengan sederhana tapi elegan itu, lalu dipandanginya beberapa detik. Nyonya Choi menutup mulutnya, terlihat seperti menahan tawa karena foto tersebut.

“Kkk ini...yeoja chingu mu??”

Tanyanya sambil menatap ke Yonghwa, kemudian mengalihkan tatapannya kembali ke foto yang digenggamnya. Ia memejamkan matanya, tangan lentiknya masih menutup mulutnya sendiri menahan tawa.
“A-ah iya...” Yonghwa menundukan wajahnya, terlihat rona di wajahnya karena malu.
“Mungkin kalau ekspresinya tidak seperti ini, pacarmu akan lebih terlihat cantik”

Nyonya Choi kembali meletakkan foto tersebut di meja kerja Yonghwa.
“Pulanglah jika kerjaanmu sudah selesai. Aku duluan”
Ia kemudian menepuk-nepuk pundak Yonghwa sebelum berjalan keluar pintu kantor menuju koridor.
Yonghwa kembali duduk di kursinya, kemudian meraih foto itu lagi.

“Lihatlah. Bahkan Nyonya Choi yang jutek itu tertawa melihat ekspresi bodohmu hahaha”

Tawanya terhenti karena getarabn handphone yang terletak di atas laporan bertuliskan ‘DATA PENJUALAN S.R.COMPANY ’.
Ia langsung meraih handphonenya, getaran handphone berhenti sesaat ia menekan tombol jawab.

“Oppa-yaaa~!” Suara dari balik telepon tersebut mengagetkan Yonghwa.

“Ya yaa pelan pelan. Ada apa hmm?”

“Oppa, jam berapa kau pulang? Apa kau mau membelikan sesuatu lalu mampir sebentar ke rumahku? Hehe”

“Aishh..Sesuatu? Apa itu? Ah biar aku tebak. Hmmm. Sudah pasti makanan”

“Neee. Bisakah kau belikan aku Jjajangmyeon si pak tua yang berjualan di gang biasa?”
Yonghwa menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 17:50.

“Hmm mungkin bisa. Tokonya tutup jam 7 malam kan?”

“Iya oppa aku tunggu ya. Mwach”

“Ya.. jangan mencium handphonemu saat sedang memakai lipstik”

“Ahaha arraseo oppa. Jangan lama-lama ne~”

“Iya aku tutup ya”

Yonghwa menjauhkan handphonenya dari telinganya dan menekan tombol ‘end call’ seraya menatap ke layar handphonenya yang bertuliskan ‘Park Shinhye – end– 01:37’

*****

“Kamsahamnida, Ahjussi”

Yonghwa mengambil plastik berisi sebungkus Jjajangmyeon pesanan Shinhye, sekaligus mengambil kembalian yang diberikan oleh pak tua tersebut.
Ia menjinjing plastik tersebut dengan tangan kiri, sambil mengantongi kembalian ke saku kanan celananya.

“Aishh yeoja itu memang merepotkanku. Memangnya dia mengidam apa? Tidak mungkin dia hamil hanya karena kita berciuman hot pada malam itu kan” omel Yonghwa sepanjang gang yang cukup gelap karena lampu hanya terdapat pada setiap ujung gang yang dijepit oleh dua gedung pencakar langit, sehingga cahaya bulan malam tidak bisa meyeruak masuk menerangi gang tersebut.
Ia terus berjalan berhati-hati karena bisa bisa ia menginjak sesuatu atau tersandung sesuatu dan terpeleset jatuh.
Langkahnya terhenti ketika ia merasakan genggaman tangan seseorang ke pergelangan tangannya, menariknya sehingga otomatis tubuh Yonghwa berbalik. Sebuah tangan yang lembut memegang kedua pipi Yonghwa yang dingin karena suhu malam itu.

YONGHWA POV
Aku merasakan  tangan seseorang menangkup kedua pipiku.
Kurasakan sesuatu yang lembut dan basah menempel di bibirku hanya untuk untuk sepersekian detik.

“Sebuah ciuman?” aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi siapa?

Jantungku berdegup agak cepat. Tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi.
Lama-kelamaan mataku menangkap sosok seorang yeoja tepat di depanku. Rambut coklatnya tampak panjang dan bergelombang. Ia memakai dress berwarna pink tanpa lengan dengan garis hitam di bagian pinggangnya. Kurasa itu warnanya, karena tidak terlalu jelas di dalam gang yang gelap itu.
Aku berpikir sebentar, sambil berusaha melihat wajahnya karena terlalu gelap disitu.
 Bukan. Itu bukan pacarku. Itu bukan Shinhye.
Aku mengedip-ngedipkan mataku kemudian memicingkan mata, untuk melihat lebih jelas wajah yeoja tersebut.
Aku melihat bibirnya menggariskan senyuman yang manis, sekaligus matanya yang memamerkan eyesmile khasnya.

“K-kau...”

“Ne, Oppa”

Ia menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya dengan jari lentiknya, memberikan kesan feminim.

“Lama tidak berjumpa” lanjutnya, ia membetulkan poninya, sambil terus memamerkan eyesmilenya.

Aku terdiam. Terpatung disitu. Di tempat aku berdiri.
Tidak percaya bahwa yeoja itu berada tepat di depanku.
Lebih tepatnya yeoja yang telah ‘membuang’-ku.
“A-apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau menciumku? Bukankah kau di Amerika?”
Aku langsung menyerbunya dengan pertanyaan karena aku kaget sekaligus bingung, mungkin sedikit bercampur dengan perasaan marah.

“Kkk...you’re still cute as usual, Oppa. Don’t you miss my kisses?”

Tanyanya sambil maju selangkah mendekatiku, kemudian memainkan jarinya di dadaku. Terasa jari lentiknya bermain disitu.
Aku menepis tangannya, dan mundur selangkah.

“Waeyo Oppa?”

Ia kembali melangkah, kali ini dua langkah hingga ia mendekap tubuhku.
Ya, ia memelukku.
Kurasakan kedua tangannya melingkar di pinggangku. Wajahnya sepenuhnya terbenam di bagian atas dadaku. Aku merasakan aroma tubuhnya.

“Aroma 1 tahun lalu” gumamku dalam hati kecilku.

Pelukannya.

Sentuhannya di pipiku.

Caranya memainkan bajuku saat ia memelukku.

Tidak bisa kupungkiri, aku tidak salah orang. Ini benar benar dia.
Ya. Aku tidak salah orang.
Dengan segera aku langsung melepaskan pelukan yeoja itu, mendorongnya sehingga ia melepaskan dekapannya.

“Maaf, sebaiknya kau merawat Eomma-mu yang sakit itu. Aku tidak ingin mengenalmu lagi. Permisi”

Dia meninggalkanku dengan alasan untuk menjenguk Eommanya yang sedang sakit yang berada di Amerika. Memang iya Eommanya sedang sakit, tapi yang kutahu sakitnya tidak separah ia harus pergi ke Amerika. Sakitnya tidak separah ia harus meninggalkanku. Ia berjanji akan kembali lagi. Tapi nyatanya tak ada kabar darinya sampai saat ini.
Ya , sampai saat ini. Sampai saat ia mencium bibirku dan memelukku barusan.
Aku membalikkan badanku, berjalan menjauhi yeoja itu.
Terdengar langkah kakinya berlari mengejarku, berteriak memanggil namaku.

“JUNG YONGHWA!”

Aku tetap berjalan menjauhinya, menuju ke salah satu ujung gang, dimana mobilku diparkirkan.

“Apa kau tidak mau bersama denganku lagi seperti dulu...”

Aku tetap berjalan, lebih cepat dari sebelumnya.

“....bahkan setelah Eommaku meninggal?”

*DEG*

Aku menghentikan langkah kakiku karena mendengar perkataannya. Terdiam. Lagi lagi mematung.

“Aku turut berduka” kataku sambil sedikit berbalik ke belakang.
Terdengar langkah kakinya berhenti. Ia berhenti mengejarku.

“Tapi sekarang itu tak ada hubungannya lagi denganku” lanjutku sambil kembali berjalan pergi menjauh darinya.

“Yaa Jung Yonghwa! Kenapa Jung Yonghwa, kenapa??!”
Aku membalikkan badan sambil menatapnya, jaraknya tidak terlalu jauh dariku.

“Karena aku sudah memiliki yang lebih baik darimu. Dan Eommanya pun tidak tinggal di Amerika”

Kubalikkan badanku kembali, kemudian begegas menuju mobilku yang sudah terlihat diparkirkan tepat di depan gang ini.
Aku masuk ke mobil, menatap keluar jendela mobil. Aku melihat yeoja itu mematung di tempatnya tadi. Wajahnya cukup terlihat karena terangnya bulan pada malam itu.
Aku mulai mengambil kunci mobilku dari saku, memutar kuncinya, dan menyalakan mobil. Aku kembali mencuri pandang keluar jendela. Terlihat jelas cairan bening mengalir keluar dari kedua mata indahnya.
Kuinjak gas perlahan, mobil pun maju perlahan meninggalkan tempat itu.
Meninggalkan yeoja itu dengan air mata mengalir di pipinya.

“Ck. Tiffany. Masa lalu”

Aku melihat ke arah kaca yang berada di dalam mobil. Dan bertanya pada diriku sendiri dalam hati.

“Mengapa masa lalu selalu datang di tempat yang gelap dan dingin?”

******

Aku mengetuk pintu,sambil masih menjinjing plastik yang berisi Jjajangmyeon.

“Permisi...”

Terdengar seseorang membukakan pintu, kemudian terlihat seorang yeoja dengan baju tidurnya yang agak sedikit minim muncul dari balik pintu.
Ia memakai dress tidur berwarna putih yang hanya menutupi tubuhnya sampai 10 cm di atas lututnya.

“Oh...Chagiya, kajja masuk. Di luar dingin” tawar yeoja itu sambil menarik tanganku 
sehingga mau tidak mau aku masuk ke rumahnya. Aku melepaskan jaket, kemudian menggantungkannya di gantungan jaket di dekat pintu masuk.

“Appamu dan Eomma mu tidak ada di rumah? ” tanyaku, seraya menyerahkan pesanan pacarku itu.

“Aaa gomawo chagiyaaa~” kata yeoja itu dengan nada manja, kemudian mengecup pipi ku. Meninggalkan jejak merah muda kemerahan di pipi kananku.

“Ya ya Park Shinhye. Kau tidak mendengarku?”

“Aaah  iya appa dan eomma sedang tidak ada di rumah karena ada acara keluarga di kampung. Aku tidak  bisa ikut karena sedang sibuk hehe”

“Hmm..begitu”jawabku sambil mengangguk, kemudian duduk di sofa lembut yang terletak di tengah ruang tamu.
Aku melepaskan dasiku karena kepanasan, dan melepaskan satu kancing kemejaku.
Shinhye menatapku dengan memicingkan matanya.
Tidak, lebih tepatnya menatap ke pakaianku.

“Ini...apa?”
Tanya Shinhye sambil menunjuk tepat ke arah bekas bibir berwarna merah yang berada di pakaianku.
Aku kaget setengah matang.

“Sial. Pasti ulah Fany tadi” umpatku dalam hati. Sadar bahwa bekas bibir itu adalah bekas lipstik milik Tiffany.

“Aish Oppa. Jawab”

“A-ah ini? Tadi aku tidak sengaja menabrak seorang wanita hahaha”
Jawabku kaku sambil tertawa garing.

“Lalu?”

“H-hm? Lalu apa?” tanyaku agak gugup.
Ia tidak menjawab, malahan langsung duduk di atas pangkuanku.  Menangkupkan kedua tangannya yang hangat ke pipiku.

“Oppa tidak macam-macam kan?” tanyanya sambil mempoutkan bibirnya.
Bibirnya mengerucut, seperti piramida yang berdiri secara horizontal.
Aku menggeleng mantap. Mengiyakan bahwa aku tidak berlaku macam-macam dengan yeoja lain.
Shinhye menepuk keras pundak kananku, sambil meneliti tubuhku dari kepala sampai pinggang.

“Ingat. Kau milikku.
Aku tidak akan membiarkan tatapanmu tertuju pada wanita lain.
Bahkan untuk melihat ujung rambutnya saja, aku tidak akan membiarkanmu.
Oppa, kau harus aku hukum”

Terlihat matanya menatap tajam ke arah mataku.
Seperti macan yang menatap tajam terhadap mangsanya, berharap mangsanya tidak bisa lari dari sergapannya.

“M-mwo? Wae chagi?”

Shinhye memainkan jarinya di kancing kemejaku, perlahan membukanya, kemudian memainkan jarinya secara vertikal di bagian dadaku yang sudah terbuka.
Nafasku tertahan ketika ia menggerakan pinggulnya memutar, tepat sasaran di atas bagian sensitifku.

“C-chagiya?”

Tiba-tiba ia mendorongku keras, sehinga badanku terhentak dan terbaring di sofa. Ia berdiri naik ke sofa, berdiri tepat di atas dadaku. Bisa kulihat dari bawah sini paha mulusnya yang tanpa noda. Kemudian ia duduk di atas dadaku, membuatku agak susah untuk bernafas.

“Oppa, kau tahu ini jam berapa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah jam yang sudah terlihat tua.
Aku melirik sebentar ke arah jam itu, dan kembali menatapnya dengan nafas yang tidak beraturan.

“Jam 19:30. Wae?”

“Apa kau tau artinya itu, Oppa?”
Aku menggelengkan kepalaku, sambil menatapnya dengan tatapan bingung.

“Waktunya makan malam, Oppa”
Ia menjawab sambil tersenyum. Tetapi ada yang berbeda dari senyumnya.
Tanpa pikir panjang ia langsung menduduki mukaku.
Tidak, lebih tepatnya di atas mulutku.

“Hmpph..” aku terdesak kaget. Kurasakan sesuatu yang lembut dan berbulu menempel tepat di mulutku.

Aku menatapnya. Ia sedang memainkan sesuatu, memutar-mutar sesuatu di tangannya.
“SIAL, itu cd nya....
...dan sekarang, DIA TIDAK MEMAKAI CD.”

Aku tidak tahu apa aku harus senang atau takut atau bagaimana. Jantungku berdegup cepat saat ia perlahan menggerakan pinggulnya maju, membuat bagian empuk dan lembut di antara selangkangannya itu semakin menekan mulutku.

“Mmm..Please eat this, Oppa”

“H-hmhh?” Aku tidak bisa berbicara karena mulutku sepenuhnya terbenam di bagian vitalnya.

“Jebal oppa..mmm.. Ini hukuman untukmu. Kau tidak bisa menolaknya...hhhmh”
Dari bawah sini kulihat wajahnya mulai sayu, suaranya pun semakin pelan.
Sekali lagi ia menggoyangkan pinggulnya, kali ini lebih terasa kuat dari sebelumnya. Kurasakan bibirku bergesekan dengan ‘bibir bawah’nya.

“Ngh..Oppa..palliwa..jebal..”

“Ya Jung Yonghwa. Mengapa kau harus takut? Ini kan permintaannya. Apa yang kau takutkan?”  Aku berbicara dengan diriku sendiri dalam hati, memutuskan antara melakukan apa yang diminta oleh Shinhye ataukah tidak.
Kulihat tatapan memohonnya, membuat nafsuku mulai naik.
Wajahnya mulai memerah, bisa kurasakan sesuatu yang lembab karena mulutku yang tadi sedikit bergesekan dengan area vitalnya.
Kuberanikan diriku sedikit membuka mulutku, perlahan menciumi  bagian di antara selangkangannya yang lembut itu. Kemudian aku hentikan lagi untuk melihat bagaimana reaksinya.

“A-angh Oppa...L-lagi Oppa”

Wajahnya makin memerah. Aku beranikan bertindak lebih ekstrim, membuka mulutku dan menjulurkan lidahku. Menggerakan lidahku menyapu belahan vaginanya yang tersaji di depan mulutku. Aku terus menjilati dan sesekali menciuminya, membuat badannya meracau tidak tentu arah.

“Nghh y-yahh Oppa..ngh more oppa ya...”

Desahan seksinya membuat nafsuku makin naik, apalagi goyangan pinggulnya yang mengejang setiap kali aku menjulurkan lidahku untuk membasahi seluruh bagian vitalnya.
Kurasakan getaran di pahanya yang menopang tubuhnya sendiri.
Aku semakin berniat untuk membuat yeoja yang menduduki mulutku ini semakin meminta lebih dariku.
Semakin memohon padaku untuk bertindak lebih.
Aku mulai berani menyentuhkan jariku ke bagian vitalnya, membuka bibir vaginanya.

“Nghhh..O-oppa apa yang kau-”
Perkatannya terhenti sesaat setelah aku mulai menyapukan lidahku menelusuri bagian dalam vaginanya, menelusuri dari bawah sampai ke sebuah tonjolan kecil berwarna pink yang berada di jangkauan lidahku.

“A-Anghh Oppa!”

Ia menjerit.
Menjerit nikmat sambil menggenggam rambutku.
Tubuhnya mengejang, membusung kedepan bagaikan panah.
Merasakan lidahku melingkar-lingkar menjilati tonjolan kecil di bagian atas area sensitifnya yang disebut klitoris.
Aku mengangkat bagian bawah dressnya yang menutupi, menahannya dengan tangan sehingga aku bisa melihat keindahan ‘’si merah muda’ yang sedang aku jilati ini.
Kutarik kedua pahanya ke arah bawah sehingga ia menduduki bagian bawah mulutku.
Itu sengaja kulakukan agar aku bisa meraih daerah tersensitifnya sepenuhnya dengan mulutku, tidak hanya dengan lidahku.
 Kudekatkan mulutku untuk meraih tonjolan kecil itu.
Dengan perlahan aku menempelkan bibirku ke tonjolan itu, mengecupnya berkali-kali. Membuat badannya lagi-lagi melengkuk ke depan. Kurasakan tangannya mencengkram kuat-kuat rambutku.

“F--F*cckkk Oppaaa arghhhh ”

Jeritannya menggema ke seluruh ruang tamu setelah aku membuka mulutku dan meraup rakus klitorisnya sambil terus mengulum-ngulumnya.
Kuberanikan diri meremas kedua belah bokongnya yang berisi, menambah sensasi yang mulutku berikan pada ‘mulut bawah’nya.
Shinye membungkukkan tubuhnya. Menginginkan service yang lebih di bagian klitorisnya yang mulai membengkak dan memerah.
Kali ini klitorisnya sepenuhnya terbenam di dalam mulutku.  Perlahan aku menghisap klitorisnya, kemudian mengemutnya secara beraturan.

“Hmmm..” Kugumamkan suaraku saat mengemut klitorisnya, memberi kesan aku menikmatinya.
Kukecap-kecap rasa asam dan pahit dari tonjolan kecil itu.

“Nghh oppa stophhh aku mau pipis oppa...jebalhh..”

Ya, itu namanya orgasme , Chagi. Bukan pipis” Aku ingin berkata hal tersebut padanya, tetapi apa daya. Mulutku masih sibuk menghisapi klitorisnya yang semakin berwarna pink kemerahan.
Aku berpura-pura tidak mendengar perkataannya. Tidak mungkin di saat-saat penting seperti ini aku berhenti mengerjainya, dan berkata ‘Iya, silakan pipis dulu’ Dan ia pun berjalan ke kamar mandi dengan polosnya. Tidak, itu tidak akan terjadi.

Aku memperkuat hisapan, seperti menghisap permen supaya cepat habis dan meleleh di dalam mulutku.
 Kugoyang-goyangkan kepalaku secara memutar dengan klitoris masih di dalam mulut.
Membuatnya semakin meracau tidak karuan, menjambak-jambak kepalaku, sambil menggerak-gerakkan pinggulnya ke depan dan kebelakang karena tidak tahan atas perlakuan nakalku terhadap bagian vitalnya.

“NGHH MIANEEE OPPA AKU PIPISSSHH.. A-ANGHH!! ”

*BLUR*

Kurasakan sesuatu yang lengket dan basah mengalir cukup banyak dari lubang vitalnya, membasahi mulutku membuat bibirku belepotan cairan cintanya.

“Hmmhh..” aku menggumam lagi, memberi kesan aku menikmati cairan cintanya yang dia keluarkan.
Ia menyingkirkan tubuhnya dari mulutku, dan tergeletak lemas di sofa. Tepat di depanku.
Aku mengambil tissu, mengelap mulutku yang terasa asin dan pahit.

“Ngh..oppa...aku mau tanya..”
Shinhye berkata dengan lemas, bisa kulihat dari ekspresi wajahnya yang sangat sayu.

“Ne Chagi?”

“Aku yang menghukum oppa, tetapi kenapa aku yang merasa terhukum?”
Aku tertawa, tidak percaya terhadap pertanyaan polosnya yang barusan ia tanyakan.
Aku tidak menjawab, kudekatkan tubuhku ke tubuhnya dengan cara merangkak ke atasnya yang sedang terbaring lemas di sofa.

“Kau mau tahu jawabannya?” tanyaku, wajahnya berada beberapa senti di depan wajahnya, sehingga aku bisa merasakan nafas hangatnya terhembus ke mulutku.

“Iya Oppa..”
Bisa kulihat wajahnya yang polos dan penasaran akan jawabanku.

“Biarkan aku duduk di wajahmu dulu” jawabku sambil tertawa kecil.

“YAAKK OPPAA!”

Ia mengerucutkan bibirnya yang akhirnya kukecup dengan lembut.

END OF POV
Sinar bulan malam itu semakin terang menyeruak masuk melalu celah jendela rumah itu.
Seakan penasaran ingin mengetahui  bagaimana kelanjutan malam percintaan mereka yang semakin diluar batas.


















»»  READMORE...

Sunday, September 8, 2013

Seohyun SNSD Melakukan Kiss Scene di ‘Passionate Love’

hqdefault


Drama yang akan tayang pada akhir pekan di SBS yaitu ‘Passionate Love’ merilis sebuah preview yang menunjukkan Girls’ Generation Seohyun beradegan ciuman.

Senada dengan judulnya, drama ini menggoda fans dengan Sung Hoon dan Seohyun menjelaskan apa yang dimaksud dengan cinta untuk mereka dan akhir dari preview ini adalah adegan ciuman mereka.

Seperti yang telah di bahas sebelumnya, pemain utama Sung Hoon dan Choi Yoon Young akan berperan sebagai pasangan. Sung Hoon akan bermain sebagai Kang Moo Yeol yang terlihat dari luar mempunyai segala nya namun tumbuh di keluarga yang mempunyai masalah dan kesakitan dari kehilangan cinta pertamanya Han Yoo Rim ( dimainkan oleh Seo Hyun ).

Choi Yoon Young akan bermain sebagai kakak dari Han Yoo Rim, Han Yoo Jung, yang kehilangan keluarganya, tapi itu tidak menghentikannya untuk terus maju di kehidupannya. Ia terlibat dengan Kang Moo Yeol lagi setelah 10 tahun kemudian.

‘Passionate Love’ akan premiere diikuti dengan ‘Wonderful Mama’ tanggal 28 September.



Source: allkpop
»»  READMORE...

Wednesday, July 24, 2013

My (Girl) Friend: Chapter 8

Pagi itu matahari tidak menampakkan dirinya.
Rintik-rintik hujan berjatuhan dengan lembutnya di atas asrama berkode S9 itu, membuat suasana dalam asrama menjadi agak dingin pagi itu.
Tapi tidak bagi dua orang yeoja yang masih tertidur di aras ranjang yang sama.
Dua orang yeoja yang saling berpelukan.
Berpelukan di dalam selimut.

“Hmmmhhh...”

Seorang yeoja terbangun, mendengar suara alarm yang memutarkan lagu “Merry Go-Round” dari handphone nya.
Ia menatap ke arah jam dinding.
Dan menatap yeoja di depannya.
“Ehh...”
Buru-buru ia keluar dari selimut dan bangun dari tidurnya.

Kuharap tidak ada orang yang melihatku tidur bersamanya tadi malam” ucapnya dalam hati, sambil merapikan rambutnya dan berjalan ke arah pintu kamar.
Ia keluar kamar, dan melihat ke arah kanan dan kiri.
“Hmm....semuanya masih tertidur rupanya. Untunglah”
Ia kembali ke kamar dan mengambil ikat rambut berwarna biru muda di atas meja.
Sambil mengikat rambutnya, ia memperhatikan yeoja yang masih tertidur pulas itu.

Hanya dengan melihatmu saja aku sudah cukup senang, Fany-ah...”

Ia berjalan mendekat ke arah Tiffany.
“Fany bangun fany...”
Ia menggoyang-goyangkan badan Tiffany.
“Emmh...”
“Bangun cepat...”
“Hmmhh..”
“Ah kau ini. Apa aku harus mengulang kejadian tadi malam agar kau bangun?”
Tiffany membuka sebelah matanya.
“Taeyeon-ah...jangan menggodaku seperti itu”
“Makanya ayo bangun. Apa perlu aku kecup bibirmu? Atau telingamu?” goda Taeyeon lagi.
“.......kau sangat bernafsu, Taeyeon” balas Tiffany sambil menatap Taeyeon.
“Dasar byuntaeng ahaha” lanjut Tiffany sambil keluar dari selimut dan menuju kamar mandi.
Ia pun mencoba membuka pintu kamar mandi.
Dan tidak bisa.
Pintunya terkunci.
Tiffany memandang kearah Taeyeon.
“Hmm...Taeyeon? Ada siapa di dalam?” tanya Tiffany pada Taeyeon yang langsung terkaget-kaget.
“A-ada orang di d-dalam?” ia bertanya balik.
Tiffany hanya mengangguk perlahan.
Jantung Taeyeon bedegup kencang.
Ia tak megira ada orang lain di kamar itu.

‘Kreekk’

Tiffany memundurkan tubuhnya.
Pintu kamar mandi pun terbuka.
Terlihat seorang yeoja hanya memakai handuk keluar dari kamar mandi.
Seorang yeoja berwajah Kanada Perancis-Jepang.

Ozawa......” ucap Taeyeon dalam hati.

TAEYEON POV
“Ozawa.....

......Apakah dia melihatku tidur dengan Tiffany?”

Aku melihat Tiffany langsung masuk ke kamar mandi, terlihat seperti terges-gesa.
Kini hanya ada aku dan Ozawa.
Aku menatapnya.
Ekspresi wajahnya terlihat biasa saja.
Sepertinya ia tidak melihatku tidur bersama Tiffany.
Aku mencoba membawa Ozawa ke sebuah pembicaraan.
“Hmm Ozawa....”
“Ne?”
“Emm....kakimu sudah baikkan?”
“Hmm lumayan” Jawabnya sambil membuka pintu lemari miliknya.
“Masih sakit?”
“Tidak terlalu”
“Oh baguslah kalau begitu”
“Iya... Oh iya Taeyeon, bagaimana tidurmu semalam?”

*DEG*

“Ehh? I-iya seperti b-biasa”
Jawabku agak tergagap-gagap.
“Hmm seperti biasa? Tidak lebih hangat dari biasanya?”
Mukaku terasa panas.
“Ehmm..apa maksudmu Ozawa?”
“Oh..tidak apa-apa. Kukira akan terasa lebih hangat jika tidur dalam pelukan. Tidak ya?”
Ozawa bertanya agak menyindir.
“Umm..ya b-begitulah...” aku menjawab seadanya.
Ia menatapku tajam.

Terlihat seperti tatapan kecemburuan bagiku” aku berkata dalam hati.

Ia masih menatapku.
“Umh...waeyo Ozawa?”
“Ehh, aniya...” jawabnya sambil berhenti menatapku dan mengeluarkan baju seragamnya dari lemari.

Aku pun keluar kamar dan menuju ke ruang tengah.
Sudah ramai rupanya.
Aku menatap ke arah TV yang sedang mempertontonkan sebuah acara.
Sebuah acara yang sering ditonton oleh anak-anak.
Ya. Bisa dibilang film kartun.
“Ckck pagi-pagi begini sudah menonton kartun...” kataku sambil duduk di sebelah Yoona.
“Kamu juga suka kaaan” Sooyoung berkata dengan mulut penuh makanan.
Aku hanya tersenyum, dan mulai ikut menonton TV.

‘Bukk’

Sebuah bantal dilemparkan ke arah mukaku.

“Ahaha mandi sana, malah nonton” ucap seorang yeoja didepanku yang barusan melempar bantal.
“Ishhh...Sunny-ya!”
“Mwo?” balasnya sambil memperlihatkan aegyo nya.
“Menyebalkan.”
Aku membalas melempar bantal ke arahnya.

‘Syutt’

Dan tidak kena.
Sunny terkekeh-kekeh.
“Huh, lihat saja nanti” ancamku sambil menunjuk ke arahnya.
 “Iya nanti aku lihat hahaha” ejeknya lagi.
Aku tak menggubrisnya.
Kulihat dua orang yeoja berjalan menuruni tangga.
Ya. Tiffany dan Ozawa.
Tapi kali ini Tiffany terlihat berbeda.
Ia memakai pita berwarna pink di kepalanya.

“Cantik sekali....”  batinku.
Aku terus memperhatikannya.
Tanpa tahu kalau Ozawa menyadari bahwa mataku tertuju pada Tiffany.  

*****

Hari ini pelajaran jam pertama adalah kimia.
Tetapi tidak seperti biasanya.
Kalau biasanya para murid terlihat suram, kali ini tidak.
Kini mereka terlihat girang.
Ya. Karena hari ini Kwon Lucy tidak hadir.
“Pagi yang indah yaa!” ucap seorang murid di dalam kelas.

Sementara di tengah keributan terlihat di bangku belakang, tepatnya di pojok, dua yeoja sedang berbincang-bincang.
“Ssst...fanyy” Taeyeon berbisik ke arah Tiffany yang sedang asik membaca novel.
“Mwo?” Tiffany menoleh ke arah yeoja yang memanggilnya, yang tepat duduk di sampingnya.
“Ada yang tahu tidak? Selain Ozawa” bisiknya perlahan.
“Ha? Tahu apa?” balasnya sambil terus membaca novelnya.
“Ituu.. yang tadi malam...”
Tiffany terdiam.
Memejamkan matanya sebentar, kemudian menoleh ke arah Taeyeon.
“Mana kutahu...” Jawabnya sambil mengangkat bahunya, dan kembali melayangkan pandangannya ke arah novel yang tadi dibacanya.
“Eh tapi bagaimana kalau Ozawa cerita ke yang lainnya?” tanya Taeyeon lagi.

Mereka saling bertatap-tatapan.
“OMO” Ucap mereka berbarengan.
Serentak mereka menoleh ke arah Ozawa yang duduk di barisan depan.
Ia terlihat sedang mengobrol dengan Yoona.
Taeyeon menyipitkan matanya.
“Ah sudahlah. Lagipula Ozawa kan bukan tukang gosip.” Tiffany berkata sambil membuka halaman baru dari novel yang sedang dipegangnya.
“Hmm..begitu ya” Taeyeon kembali menyipitkan matanya sambil memegangi dagunya sendiri.

TAEYEON POV
Aku menatap Ozawa dengan curiga.
Melihat gerakan mulutnya dengan teliti, apakah ada kata “Tiffany” atau “Taeyeon” keluar dari mulutnya.
“Kalau hal ini tersebar, bisa-bisa jadi bahan omongan nantinya di asrama.” Bisikku terhadap Tiffany.
“Hmm...” Hanya itu yang keluar dari mulut Tiffany.

‘Drrrrttt’

Getaran handphone ku membuatku kaget.
Aku mengeluarkannya dari saku seragamku dan melihat ke layar.

(1 NEW MESSAGE: Leeteuk)

“Cih. Mau apalagi orang ini...”
Aku melemparkan HP ku ke arah meja dengan kasar.
“Nugu?” Tiffany melirik ke arah layar handphone ku.
Dia terdiam sebentar.
Dan menoleh kerahku.

“...Nugu?” tanya nya lagi.

“Dia? Yang barusan mengirimku SMS?”

“Ne...Siapa dia?”

“Hmm. Itu mantanku....”

*****

TIFFANY POV

-Flasback-

Dari balik pohon kulihat seorang yeoja yang memakai baju berwarna kuning sedang bercakap-cakap di telepon.
Aku melihatnya dari belakang, sehingga aku tak dapat melihat wajahnya.
Sayup-sayup aku mendengar setiap perkataan yang dikatakannya.
“Sudahlah, jangan menghubungiku lagi...”
Dari suaranya, aku rasa suaranya itu sudah tak asing lagi di telingaku.
“Kata-katamu sampah...Aku tak peduli, aku tak mengenalmu”
Aku mendengar yeoja itu kembali berbicara, kali ini dengan nada agak kesal. Kudengar setiap perkataannya dengan cermat.
“Sudahlah oppa! Kita sudah putus! Kau tak ingat, hah?!”
Katanya lagi sambil kemudian menekan tombol merah di handphonenya.
Dari suaranya yang sedari tadi kudengar dengan cermat, dapat kuyakinkan.
 Itu Taeyeon.
Ia menutupi mukanya, dapat kulihat badannya agak bergetar.

“Taeyeon.......menangis?”

-Flashback end-

Jadi, namja yang mengantarku ke asrama semalam adalah...mantannya Taeyeon?

Aishh...

Aku bingung.
Antara bercerita atau tidak pada Taeyeon.
Antara menyembunyikannya atau tidak.
Tapi kalau dipikir-pikir, apa salahnya jika aku bercerita?
Aku kan tak salah apa-apa.
Jadi mengapa harus khawatir?
Aku menepuk pundak Taeyeon yang sedang sibuk memutar-mutarkan handphone nya di atas meja.
“Emm.. taeng”
”Ne?” jawabnya sambil berhenti memutar-mutar handphonenya, kemudian menoleh ke arahku.
“Sepertinya....a-aku bertemu mantanmu tadi malam...” kataku sambil terbata-bata.
“Eh?” Ia memiringkan kepalanya, mengerutkan dahinya, pertanda heran.
Raut mukanya menunjukan bahwa ia tidak percaya.
“GYAHAHA kau lucu sekali Tiffanyy. Jangan melawak di saat seperti ini dongg”
“Ishh..aku serius taeyeon-ahh”
“Hhaha sudahlah kau tak perlu menggodaku...” kata Taeyeon sambil tertawa tak percaya.

“Rambutnya blonde kan?” lanjutku.

Tawanya berhenti.
Ia kembali menatapku dan menaikin sebelah alis matanya.

“Ah jinjja kau pintar sekali menebak Fany-ahh”

“Punya mobil sedan berwarna hitam kan?” lanjutku lagi.

“.......”

“Benarkan, Taeyeon?”

“B-bagaimana kau tahu?”

“Kan sudah kubilang. Aku bertemu dengannya tadi malam”

“......jinjjayo? jeongmalyo?”

Aku hanya mengangguk mantap.

“Eonje? Eodiya?”


Belum sempat kukatakan sepatah katapun, bel pun berbunyi.

-ToBeContinued-
»»  READMORE...

Thursday, May 9, 2013

My (Girl) Friend: Chapter 7



“Kamsahamnida...”
Seorang yeoja berkata sambil membungkukkan badannya.
“Ne, gwaenchana...”
Jawab seorang namja sambil kembali masuk ke mobil sedan yang berwarna hitam.
Yeoja itu berbalik setelah mobil sedan yang melaju sudah tak tampak lagi.
Tampak sebuah bangunan didepannya.
Ia berjalan menuju sebuah pintu dan masuk ke pintu itu.
Sepi.
Ruang tengah sudah tak ada orang lagi.
Jam dinding terlihat menggantung di sana.
Pukul 23:00.
Yeoja itu berjalan masuk menuju kamarnya.
Dan terlihat yeoja lain sedang terduduk di tempat tidur sambil memeluki lututnya.
Matanya terlihat mengarah pada jam tangan yang sedang dipakainya.
“Ehm......”
Yeoja yang terduduk itu seketika langsung melihat ke arah pintu.
“Ah Fany! Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang??”
Dari nada bertanyanya, ia terlihat sangat khawatir.
“Memang apa pedulimu?” jawabnya sinis.
“Eh?..... Kau kenapa?”
“Tak usah pedulikan aku, urus saja namjamu itu”
“Mwo? Namja? Nuguya?”
“Kau pikir aku tak melihatmu tadi di taman? Hah?”
Tiffany melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke kursi.
Kemudian langsung menelungkupkan badannya di tempat tidur.
Hening.
Taeyeon tak bisa berkata apa-apa.
Perlahan ia mendekati Tiffany, dan menepuk punggungnya.
“Fany? Tadi k-kau me-melihatnya??”
Tak ada respon apa-apa dari Tiffany.
Perlahan terlihat badannya bergetar.
Taeyeon langsung menuju ke sisi lain tempat tidur Tiffany.
Terlihat luapan air mata membanjiri pipi Tiffany.
“Ishhh....waeyo Fany-ah???”
Katanya sambil mengambil tisu yang terletak di atas meja di sebelah tempat tidur.
“Aniya.....” kata Tiffany sambil menahan tangan Taeyeon yang hendak menghapus air matanya.
Dan langsung menutupi seluruh tubuhnya dari kaki sampai kepala dengan selimut.
“Fany....tadi itu di taman aku tak-”
“Sudahlah, aku tak peduli” Tiffany memotong perkataan Taeyeon dari dalam selimut.
“Ehmm...aku tahu kalau kau-”
“Omong kosong! Tak ada yang kau ketahui dariku!”
Lagi-lagi ia memotong perkataannya.
“Aku tahu segalanya tentangmu, Fany-ah...” sanggah Taeyeon.
“Lagi-lagi omong kosong!
Apa kau tahu bahwa aku sangat cemburu ketika kau berduaan dengan namja itu?
Apa kau tahu bahwa aku selalu memperhatikanmu di kelas?
Apa kau tahu bahwa aku selalu khawatir setiap kali Kwon Lucy memarahimu?
Apa kau tahu bahwa aku adalah orang lain selain kau yang khawatir bila nilaimu merah?
Apa kau tahu kalau aku selalu mendoakanmu setiap malam?
Apa kau tahu perasaanku padamu?
Kau tidak tahu kan?!
Jawab aku, Taeyeon!
Jawab aku!! ”
Isakan tangis yeoja di dalam selimut itu memecah keheningan kamar tersebut.
Taeyeon hanya terdiam bisu.
Matanya berkaca-kaca.

TIFFANY POV
-Flashback-
“Hey Shindong, apa menurutmu aku perlu meneleponnya lagi?”

Hmm...ternyata namanya Shindong

“Aigoo....jangan tanya aku, aku tak tahu. Aku tak mengerti wanita. Mereka itu sulit dimengerti. Aku hanya lapar”
“Ishhh kau ini....” kata namja di sebelahku, kemudian mengambil HP di sakunya.
Ia terlihat memainkan HP nya sambil menyetir.
Dan terlihat gugup serta terlihat bimbang.
“Ah nanti sajalah” katanya sambil meletakkan HP nya di dekat rem tangan.
Iseng-iseng aku melirik sedikit ke arah layar HP itu.
Aku melihat tulisan di layar HP nya.

Last call: Taeyeon (Today. 18:06)

“.......t-taeyeon....???”

“Hey nona, namamu siapa?” tanya Shindong, jelas-jelas padaku.
“.................”
“Ah dia tak dengar ya.... Hey Leeteuk, coba tanyakan namanya” lanjut Shindong sambil menepuk pundak namja yang mengemudikan mobil itu.
Namja di sebelahku menepuk pundakku.
“Ehm....kalau boleh tau, siapa namamu?”
 “E-eh mian. Namaku Tiffany. Hwang Tiffany.” Kataku sambil membungkukkan badan ke arahnya.
“Ohh, aku Leeteuk. Dan temanku ini Shindong. Senang berkenalan denganmu”
“Ne. Nado” jawabku singkat, karena masih kaget melihat nama Taeyeon di layar HP nya.
“Nanti aku turun di depan situ” kataku sambil menunjuk asrama HyoSang yang sudah agak terlihat.
“Ah, arraseo”
Mobil pun berhenti melaju.
Aku keluar dari mobil, dan namja yang bernama Leeteuk pun keluar.
“Kamsahamnida...” aku berterima kasih sambil membungkukkan badan.
“Ne. Gwaenchana....” Ia membalasnya dengan senyuman.
Namja itu kembali masuk ke mobil, dan melajukan mobilnya lagi.

Hmmm. Apakah dia itu...........

.......Leeteuknya Taeyeon??

-Flasback End-

Aku meremas-remas sprei tempatku berbaring.
Tak tahu lagi apa yang harus dikatakan, saking kesalnya.
Sekelilingku basah semua oleh air mata.
Air mata yang keluar sia-sia.
Untuk seseorang yang mungkin tidak memperdulikanku.
Keheningan kurasakan.
Apa ia masih ada di luar sana?
Aku perlahan membuka selimut yang bergambar boneka beruang yang sedari tadi menutupi seluruh tubuhku.
Cih. Masih ada.
Ia terduduk di depanku.
Seketika aku langsung menutup kembali kepalaku dengan selimut tadi.
“Tiffany.....”
Ia menyebut namaku dengan suaranya yang lembut.
Aku tak menggubrisnya.
“Fany ah....”
Kali ini dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Diam saja. Aku tak peduli.
Terdengar ia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arahku.
Dan membuka selimutku.
“Perasaan apa yang kau sembunyikan dariku?”
Tanya nya padaku, terlihat matanya berkaca-kaca.
Aku langsung mengambil kembali selimutku, tapi ditahan olehnya.
Ia membaringkanku kembali.

“Katakan.....apakah kau..........

...........menyukaiku?”

*DEG*

Jantungku langsung berdegup kencang ketika mendengar pertanyaan itu.
Kembali kuremas sprei tempatku berbaring.
“Apa aku wajib menjawab itu?”
“Tentu saja”
“Wae?”
Taeyeon meletakkan tangannya di pipiku.
“..........”
“Kenapa? Kau tidak bisa jawab kan?”
“Karena........”

“Karena aku menyukaimu, Tiffany”

*DEG*

Detak jantungku semakin cepat.
Darahku mengalir hebat.
Tanganku bergetar.
“Jadi jawablah. Tiffany, apa kau menyukaiku?”
Katanya sambil mengelus lembut pipiku sampai ke leherku.
Ughh Taeyeon....” kataku dalam hati.
“Aku akan membuatmu menjawab pertanyaanku ini, Fany”
Ia berpindah posisi ke hadapanku.
Tidak. Tepatnya ke atasku.
Tangannya belum lepas dari pipiku.
Matanya masih berkaca-kaca. Makin terlihat karena pantulan lampu yang remang-remang.
Ia mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Jawab aku, Fany....”
Desahan nafasnya masuk ke telingaku.
“Ishhh..... geli Taeyeon-ah!”
Aku menghindari kepalanya, tapi tangannya menahan kepalaku untuk tetap di situ.
Aku merasakan sesuatu yang lembut menempel di telingaku.
Ya. Itu bibirnya.
“Mmhhh hentikan Taeyeon....”
“Tidak sebelum kau menjawabnya, Tiffany”
Kembali ia mengecup telingaku.
Bukannya aku tak mau menjawab. Tetapi aku mau ini terus berlanjut.
Kini badannya menempel dengan badanku.
Lebih tepatnya, ia menimpaku.
Tercium wangi parfum yang khas.
Parfum yang biasa dipakai oleh Taeyeon.
“Andwae Taeyeon.....” ucapku perlahan.
Kini bibirnya sudah menjelajahi leher kananku.
Lidahnya bergerilya di belakang telingaku.
“Cukup Taeyeon...aishhh” Aku mendorongnya, menahannya untuk berhenti memainkan lidahnya di leherku.
Ia berhenti, kemudian menatapku.
“Wae? Kau tidak menyukainya?” tanya Taeyeon padaku.
“Aniya....aku hanya ta-”
Kata-kataku terhenti, bukan karena sengaja kuhentikan.
Tapi karena bibir mungilnya telah mengunci bibirku.

*****



»»  READMORE...