Saturday, January 5, 2013

My (Girl) Friend: Chapter 6


“My ex?
We are not friends.
We are not enemies.
We are just strangers with some memories.”

TAEYEON POV
Ya.
Dia adalah mantanku.
Seseorang yang membuatku nyaman sekaligus membuatku sakit hati setiap kali aku mengingat tentangnya.
Masih kurasakan sentuhan hangat tangan seseorang di punggungku.
Masih kurasakan elusan lembut di kepalaku.
Masih kurasakan dekapan ini menyelimutiku.
Perlahan aku melepaskan dekapan tersebut.
“Taeyeon....apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba menangis?” tanya namja yang berada di depanku itu.
“Hmm... aniyo oppa...aku tak apa-apa” jawabku jelas-jelas bohong.
“Jangan bohong. Tak mungkin kau menangis tanpa alasan, kan...”
“Mian, bukannya aku tak mau cerita. Tapi..... ini masalah pribadi”
“Begitukah? Ah, baiklah. Ini...” katanya sambil meyodorkan tisu ke arahku.

Kuharap Hyesung oppa mengerti alasanku tak menceritakan tentang masalahku ini.
Aku melihat ke arah layar handphone-ku yang dari tadi kugenggam.
Masih tertera di situ daftar panggilan terakhir.

Last incoming call: Leeteuk (Today. 18:06)

-Flashback-
Aku termenung di bawah langit yang diselimuti oleh bintang-bintang yang bertebaran.
Hmm. Malam yang indah” kataku dalam hati.
“Ini Tuan Putri...”
Terdengar seseorang memanggilku dan menyodorkanku sesuatu.
“Ah apaan sih oppa ini...” kataku sambil tersenyum kecut dan mengambil minuman yang disodorkannya.
Aku langsung menancapkan sedotan dan menyeruputnya.
“Haha maaf ya lama, tadi tempatnya penuh sih” ucap seseorang di sebelahku.
Aku menatapnya.
Menatap seseorang yang berada di sebelahku itu.
“Ne, gwaenchana oppa^^” kataku sambil tersenyum padanya.
Kembali kuseruput minumanku.

‘SROOTT’

Aku menggoyang-goyangkan gelas minuman tersebut.
“Yahh habiss...”
 “Mwo? Cepat sekali kau meminumnya” Dia menatapku bingung.
“Mau aku belikan lagi?” tawarnya.
“Ah ani... tidak usah, sudah cukup kok”
Aku melihat ke sekeliling, mencari tempat untuk membuang gelas tersebut.
Kusipitkan mataku, terlihat gentong berwarna merah di situ.
“Hmm...” Aku melemparkan gelas tersebut ke arah tong itu.

‘SYUUTT’

Yap. Tepat sasaran.
 “Hihi..” Aku tertawa kecil sambil bertepuk tangan sendirian.
Terdengar seseorang menahan tertawa, tepat di belakangku.
Aku berbalik.
“Aisshhh..oppa-ya”
Aku menyipitkan mataku dan menatapnya.
“Hhaha Taeyeon...sedari dulu kau tak berubah ya. Tetap saja seperti anak kecil” katanya sambil mengampiriku dan mengacak-acak rambutku.
“Ya! Oppa!”
Hmm memang benar apa katanya.
Aku memang sulit menghilangkan sifat dorky-ku ini.
“Ishh...” Aku merapikan kembali rambutku.
“Sini kubantu” Katanya sambil ikut merapikan rambutku.
Aku membiarkannya merapikan rambutku.
“Nah sudah cantik sekarang” Ia menaruh tangannya di bahuku.
“Taeyeon-ah...”
“Ne, oppa?”
Aku menatapnya.
Dia menatapku.
Kami saling bertatap-tatapan.
Kulihat bibirnya mulai bergerak, seperti akan mengatakan sesuatu.
“Saranghae Taeyeon...”
Kemudian namja itu memegang daguku, mendekatkan mukanya pada mukaku.
Desahan nafasnya terdengar sangat dekat.
“Nado sa-....mmh” Belum selesai aku menjawab, bibirnya sudah mengulum bibirku duluan.
Aku tersentak kaget.
Dia merangkul pinggangku,  menjelajahi mili demi mili bibirku menggunakan bibirnya.
Bibir kami saling berpagutan.
“Mmmhh...” Ia mengulum lidahku, membuatku agak sulit untuk bernafas.
Aku menarik kembali lidahku, menghentikan ciumannya, kemudian mendorongnya mundur.
“W-wae Taeyeon?” Ia kebingungan.
“Biarkan aku bicara dahulu”
“Hmm?” Ia masih kebingungan.
“Nado saranghae Leeteuk oppa....”
Langsung kurangkul lehernya dan kembali mengulum bibirnya.
Kami berciuman di bawah langit yang diselimuti oleh jutaan bintang gemerlap.
Di atas sebuah jembatan yang berada di sebuah taman .
Hanya ditemani oleh gemersik daun yang saling bergesekan yang tergoda oleh angin malam itu.
Dan seekor burung hantu, yang mungkin penasaran apa yang kulakukan dengan Leeteuk oppa.
Ah, ciuman itu...
-Flashback end-

Kurasakan sesuatu mengulum bibirku.
Bukan, bukan sesuatu. Tepatnya seseorang.
Aku merasakan sesuatu yang aneh.
“Hmmpph!” Aku mendorongnya dengan cukup kuat.
Aku mengelap bibirku, dan segera melempar pandanganku ke arah seseorang di depanku.
Kusipitkan mataku agar terlihat lebih jelas.

“Mwo?! Hye-hyesung o-oppa?” dalam hati aku tersentak kaget.

“Apa yang dia lakukan?”
“Apa yang kulakukan?”
“Mengapa.......kami bisa berciuman?”

Aku berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya.
Yang terakhir kuingat hanyalah kami berdua berpelukan, selebihnya aku lupa.
Kini, kami berdua saling bertatapan.
Sinar matanya memperlihatkan bahwa dia sedang takut sekaligus bingung atau apalah itu.
Segera kutundukan kepala dan memeluk jaketku erat-erat.
“Aku duluan” ucapku sambil melangkah pergi meninggalkannya.

TIFFANY POV
Aku mencengkram erat batang pohon di depanku, dan mencakar-cakarnya seperti kucing yang sedang mengasah kuku-kukunya.
Suara rontokan dari batang tersebut terdengar gemerisik terjatuh ke arah rerumputan tempatku berdiri.
Kubiarkan tangan kiriku mencakar-cakar pohon tersebut.
Mencungkili setiap inchi batang pohon itu.
Sedangkan tangan kananku menggantung, masih terasa sakit akibat terkena serpihan kaca.
Ingin rasanya tiba-tiba pohon ini jatuh dan menimpa mereka berdua.
Ya, mereka berdua.
Mereka berdua yang sedang ada di depanku.
Mereka berdua yang sedang berpelukan dengan mesra.
Taeyeon dan Hyesung.
Aku berbalik dan langsung terduduk di belakang pohon tersebut sambil memeluk lututku.
Tak tahan melihat mereka berdua berpelukan.
Terlihat tetesan air terjatuh kearah rerumputan di bawahku.
Tidak, bukan hujan.
Aku menangis.
Kembali tetesan itu membasahi rerumputan tersebut.
“Aisshhh...” keluhku, kemudian aku tertunduk.
Entah berapa lama.
Kuberanikan diri lagi melihat apa yang mereka berdua lakukan sekarang.
Kuintip perlahan dari balik pohon.

*DEG*

Tanganku mengepal sangat erat.
Kali ini lebih dari sekedar berpelukan.
Kepala Taeyeon agak mendongak ke atas.
Wajahnya tepat berada di depan wajah Hyesung.
Bibir mereka bersentuhan.
Ya, mereka berciuman.
Terlihat bibir Hyesung mengulum bibir Taeyeon, menjelajahi setiap mili bibirnya.
Tak ada yang terlewatkan sedikitpun.




Tanpa kusadari air mata telah membanjiri pipiku.
Aku langsung berbalik dan berlari entah kemana.
Berlari tanpa tujuan yang jelas.
Aku membasuh pipiku yang basah dengan lengan jaket yang berwarna pink.
Gelapnya malam membuatku kehilangan arah.
Masa bodoh.
Aku tetap berlari di tengah dinginnya malam yang menusuk kulitku.
Baru kusadari bahwa aku telah keluar dari kompleks asrama HyoSang.
Aku tak peduli.
Rasanya aku ingin jauh dari mereka. Mereka berdua.
Aku tetap berlari sekuat tenaga.

Dua berkas cahaya bulat berwarna oranye menyorot tepat ke mataku.
Dengan segera aku hentikan langkahku dan menutup mata.

‘CCKIIITTT’

Terdengar suara ban bergesekan dengan aspal.
Aku mencoba membuka mata, terlihat mobil sedan berwarna hitam, berjarak sekitar 1 meter di depanku.
Lampu mobil pun padam.
Dari dalam mobil terlihat seorang namja memakai baju putih agak kekecilan dengan rambut blonde menatap ke arahku.
Kami saling bertatapan.
Namja itu pun membuka pintu mobilnya dan berjalan, menuju ke arahku.
“Hey..kau tak apa?” tanyanya terlihat khawatir.
“Ah..n-ne...” Segera aku menghapus noda air mata yang masih membekas di pipiku.
“Malam-malam begini mengapa kau sendirian di luar? Eh...kau sendirian kan?”
“Hmmm...” aku hanya mengangguk perlahan.
“Sudah ya, aku mau kembali ke asramaku” kataku tanpa basa-basi.
Aku menatapnya sebentar, dan kemudian berbalik untuk pergi.
“Ehh tu-tunggu...” katanya agak terbata-bata.
“Perlu k-kuantar?” tawarnya.
Langkahku berhenti dan menoleh kearahnya.
“Boleh...”

Tiffany, apa yang kau lakukan?? Kau bahkan belum mengenalnya. Semudah itukah kau menerima tawarannya??” hati kecilku berbicara demikian.
Ahh.
 Apa peduliku.
Aku berjalan di belakangnya, menuju mobil sedan hitam itu.
Hawa yang cukup hangat terasa dalam mobil itu.
Lebih hangat dibandingkan udara luar yang menusuk.
Aku duduk di sebelahnya, di sebelah bangku pengemudi.

“Kau pikir apa yang kaulakukan??”
Suara seseorang terdengar dari jok belakang.
Aku kaget. Kaget setengah mati.
Segera aku menengok ke belakang.
Terlihata seorang namja menggunakan kaos coklat duduk di bangku belakang.
Badannya cukup besar, atau bisa dibilang gemuk. 

Hmm..pegulat sumo seperti Kwon Lucy rupanya” kataku dalam hati.

“Aku hanya ingin mengantarnya. Tidak salah kan” ucap namja di sebelahku itu.
Namja berbadan besar itu kemudian menatapku, dan segera menatap ke namja di sebelahku.
“Ah terserah kau lah” kata namja di belakang itu.
“Hmm...” namja di sebelahku hanya tersenyum simpul.
“Itu temanmu? Kukira kau sendiri” kataku sambil mengatur nafas karena kaget tadi.
“Haha mian. Iya, itu temanku” jawabnya sambil menyalakan mesin mobil.
Mobil pun mulai melaju perlahan, ke arah asrama HyoSang.

“Hey Shindong, apa menurutmu aku perlu meneleponnya lagi?”

Hmm...ternyata namanya Shindong

“Aigoo....jangan tanya aku, aku tak tahu. Aku tak mengerti wanita. Mereka itu sulit dimengerti. Aku hanya lapar”
“Ishhh kau ini....” kata namja di sebelahku, kemudian mengambil HP di sakunya.
Ia terlihat memainkan HP nya sambil menyetir.
Dan terlihat gugup.
Serta terlihat bimbang.
Entah kenapa.
“Ah nanti sajalah” katanya sambil meletakkan HP nya di dekat rem tangan.
Iseng-iseng aku melirik sedikit ke arah layar HP itu.
Aku melihat tulisan di layar HP nya.

Last call: Taeyeon (Today. 18:06)

“.......t-taeyeon....???”

“Hey nona, namamu siapa?” tanya Shindong, jelas-jelas padaku.
“.................”
“Ah dia tak dengar ya.... Hey Leeteuk, coba tanyakan namanya” lanjut Shindong sambil menepuk pundak namja yang mengemudikan mobil itu.

-ToBeContinued-

No comments:

Post a Comment