Wednesday, April 18, 2012

My (Girl) Friend: Chapter 4

by TaeNy Shipper

“YEAHHHHH!!” Aku berteriak dalam hati.
Kim Hyesung. Akhirnya kudapatkan juga namanya. Nama dari seorang namja yang tak sengaja menendang kakiku saat di rumah sakit tadi malam. Yah, nama dari seorang namja yang kusukai sejak pandangan pertama.
“Eh Taeyeon??” Lamunanku tiba-tiba terhenti oleh suara yang menyebut namaku.
“Mwo?” kataku sambil memandang wajahnya yang membuatku ingin tersenyum setiap kali melihatnya.
“Engh, anu.. apa kau tak keberatan kalau kau melepaskan ini?” tanya namja itu sambil melirik ke arah tangan kami berdua yang dari tadi masih berjabatan.
“Ah iya.. hahaha. Mianhae mianhae” Aku menjawab sambil segera melepaskan tanganku yang tadi terkait dengan tangannya.
 “Aku duluan ya...”

“...Taeyeon” kata Hyesung sambil menyentuh pundakku.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TIFFANY POV
*DEG*
Jantungku berdegup kencang, entah kenapa aku tiba-tiba teringat dengan seorang namja.
Si brengsek sialan itu” aku mengumpat dalam hati “Kenapa tiba-tiba aku memikirkannya? Apa sih pentingnya dia dalam hidupku?” Tanpa sengaja gambaran wajahnya terlintas dalam pikiranku. Uuh, dadaku terasa sesak, sakit sekali rasanya. Mataku mulai berkunang-kunang, entah karena memikirkannya atau karena efek terkena hujan tadi malam.
‘Bruukk’
Aku menjatuhkan diriku ke atas kursi tempat kami bertiga tadi duduk. Kursi itu tepat berada di belakangku. Memikirkannya hanya membuang-buang waktu saja. Tapi aku tak bisa menyangkal diriku sendiri, hati kecilku berkata bahwa sebenarnya aku...

“...masih mencintainya

Hmm, memang susah untuk menghadapi ini, yah tapi inilah yang namanya kenyataannya. Nasi sudah menjadi bubur, aku sudah terlanjur membencinya. Rasa cintaku ini telah dibunuh oleh rasa benci yang membara, rasa benci itu tak mungkin bisa dihilangkan seumur hidupku dan oleh siapapun. Rasa benci yang tak terkira besarnya. Tapi hanya satu yang kuharapkan darinya, yaitu suatu pengakuan. Pengakuan bahwa dia sudah tidak mencintaiku lagi, pengakuan kalau aku bukan pacarnya lagi, dan pengakuan bahwa aku bukan siapa-siapanya lagi. Ya, dengan itu setidaknya beban hidupku bisa berkurang, atau bahkan hilang. Karena menurutku, hanya dialah beban hidupku ini.
Kalung dengan huruf T milik Ozawa masih tergenggam di tanganku, sesaat aku melihat kalung itu dan sejenak berpikir.
Taeyeon... aku tak tahu apa yang akan terjadi jika kau tak hadir dalam hidupku
 Mengingat wajahnya selalu membuat perasaanku menjadi agak tenang. Entah kenapa, semenjak kejadian di hari ulang tahun Hyesung itu aku menjadi lebih tertarik pada yeoja dibandingkan namja. Aku merasa semua namja sama seperti Hyesung. Tidak berperasaan. Yah, sebenarnya aku tahu tidak semua namja memiliki kelakuan seperti dirinya. Hanya saja aku ingin mencoba sesuatu yang baru, yaitu berpacaran dengan seorang yeoja. Ya, dengan sesama jenis. Tidak lain dan tidak bukan, yeoja itu adalah Taeyeon. Suatu saat nanti aku akan menyatakan perasaanku, perasaan yang sebenarnya terhadap Taeyeon. Aku yakin pada waktu pertama kali aku bertemu dengannya, ia terlihat seperti terkagum-kagum melihatku. Sepertinya ia menyukaiku. Sepertinya. Sayangnya waktu itu sudah cukup lama, saat itu dan hari ini sangatlah berbeda. Kini dia sudah tertarik pada namja lain. Yang sekarang harus kulakukan adalah...

“...menyingkirkan namja itu dan membuat Taeyeon berpaling padaku lagi

Tapi bagaimana aku bisa menyingkirkannya? Melihatnya dan tahu nama namja itu saja belum pernah. Rasa penasaran mulai menggebu-gebu dalam hatiku, bercampur dengan rasa cemburu yang membara. Aku tak tahan lagi, aku menginginkan Taeyeon berada di sisiku, di pelukanku. Hanya untukku seorang. Ya, hanya untuk diriku seorang. Kupandang lagi kalung milik Ozawa dengan huruf T itu, kugenggam dan kuletakkan tanganku yang tergenggam tersebut tepat di depan dadaku. Aku hanya bisa berharap, berharap agar Taeyeon sama seperti kalung ini. Sangat dekat dengan hatiku. Sesuatu mendesak mataku, mendesak ingin keluar dari pelupuk mataku.
‘Tess’ Satu tetes, air mata itu jatuh tepat di atas kalung milik Ozawa.
‘Tess’ Dua tetes, kuharap tak ada orang yang melihat bahwa aku sedang menangis.
‘Tess’ Tiga tetes, aku merasa seseorang sedang berdiri tepat di depanku.
Aku langsung menengadahkan kepalaku, lupa bahwa tetesan air mata itu masih membekas di pipiku.
“Tiffany? Kau...menangis??” Gadis itu menatapku dengan heran. Ia kemudian duduk di sampingku lalu meletakkan tongkatnya di sebelah kursi yang kami duduki. Buru-buru aku mengelap air mata yang membasahi pipiku. Kepalaku tertunduk, membuat rambutku menutupi hampir seluruh wajahku.
Gadis itu menatapku, menyibakkan rambutku dan menyelipkannya di belakang telingaku.  
“Ada apa? Apa yang terjadi??” Ia bertanya untuk kedua kalinya.
“Ah Ozawa, tak apa-apa. Aku hanya...” Kata-kataku terhenti, tak tahu alasan apa yang harus dibuat. Tak mungkin aku mengatakan bahwa aku menangis gara-gara Taeyeon, mungkin akan terjadi salah paham nantinya.
“Hmm? Hanya apa??” Dia meletakkan tangannya di punggungku dan mengelus-elusnya, mencoba menenangkanku yang masih terisak-isak tanpa mengeluarkan air mata. Aku merasakan setiap sentuhannya. Sentuhannya itu sangat lembut, sangat berperasaan. Lama-lama aku merasa nyaman didekatnya.
Benar-benar figur seorang ibu yang baik” Aku membatin.
 Perhatian kami berdua tertuju pada Taeyeon yang masuk dari pintu utama RS dengan wajah ceria.
“Ahh akhirnya ketemu juga... Hehe” katanya sambil senyum-senyum.
“Ketemu di mana?” Aku bertanya, hanya untuk menutup-nutupi agar Taeyeon tidak tahu bahwa tadi aku menangis.
“Di luar dong. Benar-benar aku tak tahan dengan senyumannya itu”
Hah? Senyuman? Sebenarnya apa yang dibicarakannya sih?
“E-Eh Taeyeon, k-kalung itu tersenyum??”
“Oh kau menanyakan tentang kalung ya?? Hahaha. Bukan, bukan kalungnya, tetapi namja itu”
Aku berpikir sejenak dalam hati. Lalu dengan sigap langsung bertanya
“Mwo?? Namja...yang selalu kau bicarakan itu?!”
“Iya itu. Hehe”
“Wah benarkah?? Terus terus??” Ozawa giliran bertanya, sepertinya penasaran apa yang dilakukan Taeyeon dan namja itu di luar tadi.
Yah aku pun penasaran, tapi rasa penasaranku dikalahkan oleh rasa cemburuku.
Ah kenapa aku tadi tidak keluar? Padahal ‘musuh besar’ku ada di luar tadi.
Yah, belum apa-apa aku sudah memanggilnya musuh besar. Hmm mungkin karena dia adalah satu-satunya sainganku untuk mendapatkan Taeyeon.
Ozawa terlihat sangat antusias mendengarkan cerita Taeyeon, sementara itu aku hanya melamun, melihat langit yang sudah cukup mendung lewat jendela yang berada tepat di belakangku. Sebenarnya aku penasaran apa yang dilakukan Taeyeon dan namja itu, tapi mungkin itu hanya akan membuat dadaku makin sesak saja. Aku dan Taeyeon cukup berjauhan, sengaja aku menjauh agar setiap perkataan Taeyeon tak terdengar olehku. Tapi masih saja samar-samar terdengar.
“Oh begitu?? Hahha, siapa namanya tadi??” Ozawa bertanya demikian, mendengar itu aku langsung memasang kupingku, menyibakkan rambut yang menutupi telingaku.
“Namanya... Ki-”
‘BLLAAAARRRR’
Aku tersentak kaget, begitu juga Taeyeon dan Ozawa.
Seberkas cahaya yang sangat terang menyeruak memasuki jendela itu, hampir bersamaan dengan suara petir yang sangat keras tadi. 
“Wah terdengar sangat dekat sekali” kataku sambil berjalan menuju mereka berdua.
“Iya dekat sekali kedengarannya. Kita kembali ke asrama yuk, sebelum hujan turun” Ozawa berkata sambil mengambil tongkatnya yang tersender di kursi.
“Iya” Aku dan Taeyeon menjawab serentak.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hari demi hari berlalu, kaki Ozawa pun mulai pulih kembali, walaupun belum pulih sepenuhnya. Ia masih harus memakai tongkat jika ingin pergi kemana-mana, tapi kali ini ia dapat berjalan sendiri tanpa dibantu orang lain, hanya bantuan tongkatnya. Hari-hari pun berjalan seperti biasanya di asrama HyoSang yang berkode S9 itu. Baru-baru ini para siswi dalam asrama ini sibuk, sebenarnya bukan hanya asrama S9 saja, tetapi seluruh asrama yang dihuni oleh murid kelas 3.
“Eh Seohyun, yang nomor sembilan itu caranya gimana sih?” Sunny dengan aegyeonya bertanya pada Seohyun yang sudah selesai mengerjakan keseluruhan soal yang berjumlah 50 itu.
“Huu alasan saja kau, bilang saja kalau mau nyontek. Hahaha” ujar Sooyoung yang sedang asik ngemil sambil menonton TV.
“Enak saja. Setidaknya aku kan bertanya” balas Sunny sambil sibuk menyalin jawaban.
“Tuh benarkan apa kataku...” Sooyoung mencolek lengan Seohyun. Seohyun hanya tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hehe. Sedikit saja kok, Seo” kata Sunny sambil menyenggol Seohyun.
“Kalau kau tidak mau lulus yah silahkan saja” Seohyun membalas dengan dingin, seolah tanpa dosa dia mengatakannya.
“Hwwaaaaaa Seo, jangan menakuti-nakuti aku dong ” Sunny langsung berhenti menyalin. Seohyun hanya tersenyum kecil.
Hanya mereka yang ribut di ruangan itu, sementara ketujuh murid lainnya benar-benar berkonsentrasi dalam mengerjakan soal-soal itu. Soal-soal latihan yang diberikan oleh guru bidang studi masing-masing. Satu bulan lagi mereka akan menghadapi saat-saat yang menentukan, saat-saat yang mengerikan. Saat-saat yang lebih mendebarkan dibanding saat jam pelajaran kimia Bu Kwon Lucy. Menghadapi sesuatu yang mencari tahu apa saja yang mereka dapatkan ketika bersekolah di SMA HyoSang selama tiga tahun. Ya benar, ujian akan menanti satu bulan lagi.

‘Drrrrttt-dddrrrrttt’

Sebuah HP yang diletakkan di atas meja bergetar dengan keras, seorang gadis mengambilnya. Satu pesan diterima.

‘KH’

TAEYEON POV
Flashback:
“Aku duluan ya ...Taeyeon” kata Hyesung sambil menyentuh pundak Taeyeon.

*DEG*

Kurasakan tangan hangatnya menyentuh pundakku dengan lembut. Jantungku berdegup kencang, tak pernah sekencang ini sebelumnya. Tidak juga dengan Leeteuk oppa. Kemudian ia melepaskan tangannya dari pundakku, berbalik dan melangkah pergi. Baru beberapa langkah saja, aku menghentikannya. Lagi.
“Hei tunggu!
“Yah, ada keperluan lain?”
“Emm... anu... boleh aku minta nomor HP mu??” tanyaku padanya.
“Sangat boleh” Ia menjawab dengan mantap, sepertinya pikirannya sama denganku. Aku mengeluarkan secarik kertas... dan tidak membawa pulpen.
“Hmmm. Kau punya pulpen? Boleh aku pinjam?”
“Ah aniyo, aku tidak membawanya”
“Oh begitu... hmmm bagaimana ya...” Aku bingung, mau menulis pakai apa kalau tak ada pulpen?
“Ya sudah aku cari pulpen dulu ya..” lanjutku sambil hendak beranjak pergi.
“Tunggu, apa kau tidak membawa HP??”
“Aku membawanya.. Wae?”
“Lalu kenapa tidak langsung simpan saja nomorku di HP mu itu?”

Bodohnya aku.

“Ah iya ya. Hahaha. Mian” Saking gugupnya sampai-sampai aku kehilangan akal. Ia terlihat menutupi mulutnya, sepertinya menahan tawa. Aku mengeluarkan HP dan bersiap-siap memencet nomor. Setiap angka yang dikatakannya kudengar dengan cermat, takutnya nanti malahan salah memencet karena saking gugupnya. Tanganku gemetar.
“Sudah??” tanyaku padanya setelah dia berhenti mengatakan sederet angka tadi.
“Iya sudah”
 Kutekan tombol save yang ada di HP ku, dan menyimpan nomor itu dengan nama ‘KH’

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ya, KH, itulah nama yang aku berikan untuk nomornya yang tersimpan di HP ku. Sejak saat itu kami sering mengobrol lewat SMS dan kadang-kadang aku meneleponnya. Dengan segera aku membuka pesan yang tadi diterima.

To: Taeyeon
Hei Taeyeon
Lagi apa kau??
-KH-

To: KH
Lagi ngerjain soal-soal latihan untuk ujian nih. Huhu
-Taeyeon-

To: Taeyeon
Oh aku mengganggumu yah?? Ya sudah kerjakan saja dulu.
Semangat yah, berusahalah dengan  baik. Aku selalu mendoakanmu^^
-KH-

“Iya. Hehe” Aku berkata dalam hati.
“Kok senyum-senyum sendiri? Dari siapa tuh Taeyeon? Dari namja chingu yah?? Hahaha” goda Sooyoung.
“Bukan bukan, aku kan belum punya pacar” aku tersipu malu, sepertinya wajahku memerah.
“Iya bukan dari pacarnya, tapi calon pacar. Hahhaa” Ozawa menimpali sambil menyenggolku.
“Ah bisa saja kau ini Ozawa. Ckckc...” Semuanya memandangku sambil tertawa, bahkan menggodaku.
“Wow Taeyeon, hebat juga kau” (Hyoyeon)
“Iya, kau bisa mendapatkan namja walaupun di asrama wanita. Haha” (Yoona)
“Aku salut padamu. Hahaha” Sooyoung memukul-mukul punggungku tanpa perasaan.
“Ahaha bukan siapa-siapa kok, hanya teman saja” jawabku sambil mengelus-elus punggungku agar rasa sakitnya hilang. Tapi hanya seorang gadis yang terlihat diam saja, ia menundukkan kepalanya. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya yang cantik.
Ya, itu Tiffany. Baru-baru ini ia terlihat murung, tak bersemangat. Hanya ada satu pertanyaan terpendam dalam hatiku. Ada apa dengannya?
“Ah, sudahlah jangan dibahas hal tidak penting begitu, lebih baik bahas soal-soal ini. Bagaimana??” Aku menyarankan untuk mengganti topik pembicaraan.
“Setuju!” beberapa menjawab pertanyaanku serentak, yang lainnya mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.
“Hmm Tiffany, apa kau setuju??” Aku bertanya pada gadis yang sedari tadi aku perhatikan.
“Ne” Ia menjawab dengan singkat sambil tetap menundukkan kepalanya.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Di koridor sekolah saat jam pelajaran seharusnya sudah selesai, beberapa murid kelas 3 sedang berbincang-bincang.
“Ahh memang menyebalkan kalau ada jam pelajaran tambahan seperti ini, membuat waktu tidur siangku berkurang. Huhh” keluh seorang gadis sambil berjalan dengan kaki diseret.
“Jangan mengeluh terus, Unnie. Itu kan demi kebaikanmu juga” balas gadis lain.
“Seohyun ah, sudah cukup aku mendengarkan nasihatmu itu” keluhnya lagi dan kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Yuri.
“Ah akhirnya...” Yuri membatin.
Tiffany kemudian datang menuju mereka, ia sendirian.
“Eh Fany, tak biasanya kau sendirian. Mana Taeyeon??” (Yoona)
“Iya, kau kan biasanya selalu bersama dengannya...” (Seohyun)
“Ah? Benarkah??” Tiffany bertanya balik.
“Ckckc, lama-lama kau seperti Jessica saja. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan” balas Seohyun dengan dahi dikerutkan.
“Ne? Kau membicarakan sesuatu tentangku, Seo?” Jessica mendengarkan walaupun dengan mata tertutup menyenderkan kepalanya di bahu Yuri. Seohyun hanya tersenyum simpul.
Tiffany menghela nafas panjang, terlihat inginmengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi.
Terlihat sesorang berlari ke arah mereka berlima.
“Taeyeon?” gumam Tiffany dalam hati.
Dengan ngos-ngosan kemudian ia berkata “Fany ah, kemana saja kau, aku dari tadi mencarimuuuu...”
“Taeyeon mencariku?” Tiffany mengangkat alis.
“Iya!”
“Ah, aku dari tadi di sini kok. Kau saja yang sibuk dengan orang lain” ujar Tiffany agak menyindir.
Taeyeon terdiam, semua mata memandang ke arahnya.
“Si-Siapa??”
“Ah siapa lagi kalau bukan namja itu. Namanya saja aku belum tau” Tiffany menjawab dengan nada kesal.
“Namja itu? Oooh dia...” Taeyeon memalingkan wajah pada Tiffany.
“Ah, kau cemburu yaaa... Ngaku saja....Hahaha”
Tiffany tersentak kaget, mukanya mulai memerah. Ia tetap terdiam.
“Ah aku tahu kau iri padaku kan? Aku bisa mendapatkan namja sedangkan kau tidak? Begitu kan??” Taeyeon mencolek-colek lengan Tiffany.
Iya memang aku iri, tapi bukan karena kau bisa mendapatkan namja sedangkan aku tidak. Tetapi karena...

...aku juga ingin memilikimu, Taeyeon

 ‘Krriiinnngggg’
“Ah, bel pelajaran tambahan sudah berbunyi. Ayo masuk, Fany ah!”
Taeyeon meraih tangan Tiffany dan memasuki kelas, diikuti murid-murid kelas 3 lainnya. Tiffany menggenggamnya dengan erat. Sangat erat. Taeyeon menuju sebuah kursi yang ingin didudukinya.
Taeyeon mencoba melepaskan genggaman itu. Tidak bisa.
“Kenapa Fany ah? Kau mau duduk denganku?”
Tiffany hanya mengangguk perlahan. Taeyeon di sebelah kiri sedangkan Tiffany duduk di sebelah kanan. Taeyeon mencoba melepaskan genggaman itu lagi. Tetap tidak bisa.
“Bu Kwon Lucy sudah datang. Fany lepaskan...” Taeyeon berbisik pada Tiffany. Tetapi tetap tidak dilepaskan, genggaman tangan Tiffany malah semakin kuat. Taeyeon terlihat meringis menahan sakit ditangannya itu.
 “Uhh.. sakit Fany ah.Cukup, lepaskan sekarang...” Kali ini bisikan Taeyeon agak sedikit keras dari sebelumnya. Tiffany hanya tersenyum kecil.
Aku tak akan melepaskanmu Taeyeon, aku tak mau jauh darimu. Aku tak mau kau jatuh di tangan orang lain. Aku ingin kau selalu di sisiku, Taeyeon” batin Tiffany.
“Fany, sakit Fany...kumohon lepaskan” mata Taeyeon mulai berkaca-kaca.
Ya pasti rasanya sakit. Tapi tidak sesakit hatiku ini, Taeyeon” Tiffany membatin lagi.
Semakin lama Tiffany semakin kuat menggenggam tangan Taeyeon.
“Uhh..”

“Lepaskan!!!”

Taeyeon membentak Tiffany, membanting tangan Tiffany ke arah bawah, dan akhirnya terlepas. Teriakan itu memecah kesunyian kelas. Semua siswi melihat ke arah bangku belakang. Ya, itu tempat Taeyeon dan Tiffany duduk.  Tiffany hanya menunduk, seolah-olah dia tidak melakukan apa-apa.
“Fany.. apa yang kau lakukan!?” Taeyeon berbisik dengan nada kesal.
Bu Kwon Lucy menatap Taeyeon, tapi Taeyeon tak berani menatapnya balik.
“Kim Taeyeon!”
Wanita berumur 50 tahun itu berteriak ke arah Taeyeon.
“I-Iya...”
“Bisa kau kerjakan nomor 1 di depan?”
Duh, sialan” Taeyeon mengumpat dalam hati.
“Ne.. tunggu sebentar”
“Bukan nanti-nanti. Sekarang!!”
Ah bagaimana ini? Melihat soalnya saja belum, apalagi mengerjakan...
Ia mulai gugup, melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke depan kelas. Dengan tangan gemetar ia mengambil spidol yang tergeletak di meja guru.
“..............”
Beberapa menit kemudian, Kwon Lucy melihat pekerjaan Taeyeon.
“Ckckck” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah melihat bahwa hanya ada angka ‘1’ yang tertulis di white board itu.
“Sudah sana kembali ke tempat duduk”
Taeyeon pun melangkah menuju bangku belakang. Sebelum sempat duduk, Kwon Lucy berkata “Nanti pulang sekolah kamu menghadap saya”
“Ah iya” Taeyeon terlihat pasrah, ia menghela nafas panjang. Ia menutupi mukanya dengan kedua tangannya.

TIFFANY POV
Ah apa yang telah kulakukan??
Kan kasihan Taeyeon. Sepertinya tadi aku kehilangan akal sehatku. Aku menyesal atas hal yang tadi kuperbuat. Aku memasang mataku ke arah tangan kanan Taeyeon. Tangannya itu gemetar, sepertinya masih sakit. Terlihat dari caranya menulis di white board tadi.
“Emm...T-Taeyeon??” Aku memberanikan diri berbicara padanya.
Ia melepaskan kedua tangannya dari mukanya dan menatapku.
“Fany ah...”
‘Kriiinnnggggg’
Bel berbunyi, tanda pelajaran tambahan sudah selesai. Para siswi pun keluar kelas.
Aku tak peduli. Aku tetap melanjutkan perbincangan kami berdua.
“Mianhae Taeyeon ah. Tadi... tadi aku tak bermaksud untuk-”
“Sudahlah Fany... Aku tahu bagaimana perasaanmu”

*DEG*

Mwo?? Dia tahu...perasaanku??
“Ehh? Maksudmu??” Tanyaku dengan wajah penasaran.
Tiba-tiba tangannya meraih kedua tangnku dengan lembut.
“Fany ah... aku benar-benar tahu perasaanmu...tapi aku-”
‘Brakkkk’
Seseorang memukul meja, membuat kami berdua tersentak kaget.
“Eh kalian berdua ngomongin apa sih? Sepertinya serius sekali. Sambil pegang-pegangan tangan pula. Hahaha”
“Ah Sooyoung!! Kamu ini ganggu saja!” ujar Taeyeon dengan nada kesal.
“Haha, aku tak bermaksud untuk mengganggu. Tapi Kwon Lucy sudah menunggumu tuh...”
Seketika raut wajah Taeyeon berubah menjadi panik.
“Gawat” katanya.
Tanpa berbicara apa-apa lagi, ia langsung berlari keluar kelas. Menuju ke ruang guru.
“Aduh dasar si Taeyeon itu. Kwon Lucy dilawan. Ckckc”
Aku hanya tertawa kecil mendengar komentar Sooyoung.
“Ah Tiffany, kita duluan saja kembali ke asramanya. Pasti guru killer itu berceramah panjang pada Taeyeon. Hahaha”
“Ah iya...ayo”
Kami berdua pun berjalan kembali ke asrama.

Hmm, aku masih penasaran. Perasaan apa yang Taeyeon ketahui dariku? Apakah ia tahu perasaanku padanya? Apakah ia tahu kalau aku menyukainya? Apakah ia tahu kalau aku menyayanginya? Apakah ia tahu kalau hatiku ini benar-benar  tulus mencintainya?
Ah aku bingung, terlalu banyak pertanyaan yang terpendam.
“Tiffany, aku bingung”

*DEG*

Aku kaget mendengar pernyataan Sooyoung.
 “B-Bingung kenapa??”
“Itu... emmm.... baru-baru ini Sunny sepertinya cuek terhadapku, tak seperti biasanya”
Ah Sooyoung Sooyoung, masalahku saja belum selesai, bagaimana aku bisa membantumu menyelesaikan masalahmu?
“Ah itu sih sudah biasa, mungkin kau ada salah dengannya? Coba saja minta maaf” Aku menjawab seenak jidatku.
“Nah itu dia masalahnya! Aku tak tahu apa salahku!”
“Cari tahu dong” Lagi-lagi aku menjawab dengan asal.
“Caranya??”
“Hmm.. ya kau mengobrol saja dengan Sunny, seperti tidak terjadi apa-apa. Pasti lama-lama ia bersikap biasa lagi” Aku berusaha semampuku untuk memberi solusi terbaik.
“Itu dia... Baru-baru ini setiap kali aku bertemu dengannya, perasaanku ini...”
“Perasaanmu kenapa??” Kali ini aku mulai penasaran.
“Ah bagaimana aku mengungkapkannya? Jantungku ini rasanya berdebar-debar tiap kali aku melihatnya”
“Mwo??!”
“Tiffany ah, biasa saja dong ekspresinya. Jangan membuatku malu” Kulihat pipinya mulai memerah.
“Jadi perasaan itu...cinta?? ” Aku mencoba meyakinkan.
“Yah mungkin saja begitu. Tidak tahu ah, aku bingung!” Pipinya makin bertambah merah.
Wow Sooyoung, perasaanmu pada Sunny sama seperti perasaanku pada Taeyeon.
“Yahh Sooyoung... kalau begitu sih aku tak mau ikut campur” Aku menyilangkan kedua tanganku didadaku.
“Wae?? Tapi apakah tidak apa-apa kalau aku mencintai...seorang yeoja?”
“Choi Sooyoung... Cinta itu tidak memandang gender” Kata-kata ‘sesat’ku mulai muncul.
“Jinjja??”
“Hmm...mungkin saja iya” Aku tak yakin dengan pernyataanku tadi.
“Ah begitu ya... Jadi bagaimana solusi untuk masalahku ini, Tiffany??”
“Kan sudah kubilang aku tak mau turut campur. Ini adalah masalah perasaan. Perasaanmu dan Sunny, jadi aku tak berhak untuk turun tangan. Kau sendirilah yang harus menyelesaikannya. Ini masalah cinta” Tidak tahu aku mendapatkan kata-kata ini dari mana.
“Hmm.. arraseo” katanya dengan lemas.
Aku menepuk-nepuk punggungnya.
Ah aku jadi merasa bersalah padanya, masalahku saja belum selesai, sudah berani-beraninya aku memberi solusi pada orang lain.
Tapi tak apalah, setidaknya solusi yang kuberikan tadi sekaligus bisa menjadi solusi untuk masalahku.
Ah Taeyeon Taeyeon, tega-teganya kau membuatku mencintaimu.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Dari gerbang sekolah terlihat seorang yeoja dengan wajah lesu berjalan keluar gerbang, membawa beberapa buku di tangannya.
Uhh, sudah diberi jam pelajaran tambahan, masih saja ditambah lagi oleh Kwon Lucy itu. Dimarahi pula. 15 menit dimarahi, 45 menit diajari kimia. Total 1 jam” Ia menggerutu dalam hatinya.
Ia berjalan sambil menendang batu-batu kecil saking kesalnya.
‘Bruukkkk’
Bahu gadis itu bertumbukan dengan bahu seseorang. Buku-buku yang berada di tangan gadis itu berjatuhan.
“Oppa???”
“Ah Taeyeon?!”
“Hehe iya, kebetulan sekali bertemu di sini!”
“Hmm kau belum pulang? Sudah sore begini” Ia menatap jam tangannya.
“Iya nih. Tadi habis dimar- eh... anu... tadi ada pelajaran tambahan sih...”
“Lho bukannya pelajaran tambahan sudah selesai dari tadi? Terus aku tadi sekilas melihatmu di ruang guru. Apa yang kau lakukan si situ??”
Yah ketahuan dehh” Gumamnya Taeyeon hati.
“Yah sebenarnya tadi aku dimarahi gara-gara tak serius dalam pelajaran. Hehe”
“Hmm ternyata begitu yah sebenarnya... ckckc ”
“Iya, Bu Kwon Lucy itu memang menyebalkan sih”
“Oh kau dimarahi oleh Bu Kwon Lucy???”
“Ne... Uuh dia kalau sudah marah seperti beruang kelaparan saja. Matanya begitu tajam kalau melihat ada siswi yang menyontek. Aku masih penasaran apa dia punya ilmu gaib ya? Hahaha” Aku berbicara seenaknya saja.
“Haha, maafkan ya kalau dia selalu memarahimu...”
“Ehh? Kenapa oppa yang minta maaf? Kau kan tidak salah...” Taeyeon bingung dengan perkataan namja itu.
“Ya, maafkan Umma ku kalau ia terlalu kasar padamu...”

“MWWOOO????!!!”

Taeyeon terkejut, seterkejut-terkejutnya. Matanya terbelalak menatap ke arah namja itu, mulutnya terbuka lebar.
“Omo, jadi Bu Kwon Lucy itu ibumu, Hyesung oppa??!”
“Ne... dia itu ibuku. Hahaha”
 “Ah aku jadi tidak enak pada oppa, tadi sudah membicarakan hal yang buruk-buruk tentang ibumu”
Muka Taeyeon memerah, menepuk jidatnya sendiri.
“Haha tidak apa-apa kok, ibuku memang begitu. Tapi aku yakin dia melakukan itu untuk kebaikan anak didiknya sendiri. Untuk masa depan mereka, agar mereka kelak dapat menggapai cita-citanya” jelas Hyesung.
“Jinjja??”
“Iya, aku serius. Kau mau bukti?”
“Apa buktinya??” Taeyeon menatap Hyesung dengan wajah penasaran.
“Akulah buktinya” Hyesung menjawab dengan mantap.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Eh Tiffany, Taeyeon tidak bersama denganmu??”
Tiffany yang baru datang ke ruang tengah itu langsung duduk di sebelah gadis yang bertanya kepadanya.
“Emm tidak, dia tadi disuruh menghadap Kwon Lucy...”
“Ckckc...memang dasar Bu Kwon Lucy itu”
“Iya. Hmm enak sekali kau izin tidak masuk tapi tetap dapat catatan” ujar Tiffany sambil memberikan catatan bahan pelajaran yang tadi dibahas.
“Gomawo Tiffany...”
“Iya Ozawaaa”
“Hehehe.. bisa sekalian ajari aku tidak??”
“Mwo?? Malas ah, Seohyun saja tuh. Hahaha”
Seohyun hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Tiffany itu.
“Huu, bilang saja kalau kau juga tidak mengerti” sindir Ozawa.
“Nah itu masalahnya...Aku tak begitu mengerti... hehehe” Tiffany menyeringai.

‘Klekkk’ Pintu masuk asrama terbuka, terlihat Taeyeon masuk dengan wajah berseri-seri.

“Wow Taeyeon, baru kali ini aku melihat murid habis dimarahi malah senyum-senyum begitu” (Sooyoung)
“Hehehe. Bukannya begitu”
“Lalu kenapa?” Ozawa menimpal
“Kau mau tau?”
Ah jangan-jangan...dia bertemu lagi dengan namja itu” Tiffany menebak-nebak dalam hatinya.
“Aku tadi bertemu dengan namja itu lagi. Haha” jelas Taeyeon.
Tuh kan benar...” Ya, Tiffany terlihat seperti tidak suka kalau Taeyeon dekat-dekat dengan ‘musuh besar’nya itu.
“Wahhh pantas saja wajahmu ceria begitu, tidak seperti gadis ini nih” Yuri menggoyang-goyangkan bahunya yang disenderi oleh Jessica tentunya.
“Mwo? Kau membicarakanku??” Jessica berkata sambil masih menutup matanya.
“Haha bercanda kok bercanda” kata Yuri sambil mengelus-elus kepala Jessica dengan lembut.

‘Tok tok tok’

Terdengar suara pintu asrama di ketuk tiga kali.
“Biar aku yang membukanya”  Seorang gadis dengan baik menawarkan diri untuk membuka pintu. Ia Berjalan menuju pintu.
‘Klekkk’ Pintu dibuka.
“Ini aku mau mengembalikan buku Taeyeon yang....”
Perkataan namja itu terhenti, mereka berdua saling bertatap-tatapan.

‘BRRRAAAAAAKKKKKKKKKKK’

Dengan sekuat tenaga gadis itu membanting pintu dan segera berlari ke kamarnya.
Semua siswi yang berada di ruang tengah terdiam. Hening.
Seorang gadis lain menuju ke pintu asrama yang telah tertutup, dan membukanya perlahan.
“Hyesung oppa???” kata yeoja itu.
Ya, itu Hyesung. Ia terlihat sangat syok dan terkejut.
“Ah Taeyeon, ini tadi kau melupakan bukumu yang terjatuh tadi”
“Oh iya, gomawo”
Hyesung melirik-lirik ke dalam asrama.
“Hmm...Taeyeon....”
“Ya???”
“Gadis yang membanting pintu tadi.....”

“......Tiffany kah??” tanya Hyesung mengerutkan wajahnya.

-ToBeContinued-

Author note:
Bonus pict Tiffany Taeyeon Hyesung at Sonyeo Sonyeon Gayo Baekso (SSGB)










TaeNy is REAL


1 comment:

  1. Ceritanya bagus ^.^
    Bagaimana sambungan kisah antara Taeyeon, Tiffany dan Hyesung??
    Apakah Ozawa betul" memaafkan Tiffany?
    Apakah nanti Taeyeon tau apa yang telh diperbuat oleh Hyesung terhadap Tiffany?
    Mian kalo pertanyaannya banyak ^.^

    ReplyDelete